rss

Sunday, November 16, 2008

Point of View Kawasan EURO Pekan ini


Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;
  • Selama pekan lalu rilis data ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian Uni-Eropa berada pada kondisi resesi untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir pada kuartal ketiga, sehingga sangat mungkin bagi ECB menurunkan tingkat suku bunga kembali dan pajak berkenaan dengan krisis finansial terburuk sejak Great Depression.
  • Data GDP ke-15 negara anggota Uni-Eropa menurun sebesar 0.2 persen dari periode kwartal sebelumnya, yang juga menurun sebesar 0.2 persen, demikian dirilis Badan Pusat Statistik Uni-Eropa yang berbasis di Luxembourg. Pertumbuhan Ekonomi yang mengalami kontraksi selama dua kuartal yang disebabkan penurunan nilai tukar euro dan harga minyak menjadikan Uni-Eropa mengalami resesi untuk pertama kalinya sejak mata uang Euro secara resmi dipakai hampir 10 tahun yang lalu.
  • Para konsumen dan produsen (perusahaan) mengalami penurunan dalam sektor penjualan dan keuntungan, mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) melakukan penurunan tingkat suku bunga beberapa kali dalam periode yang singkat dan program stimulus fiscal oleh pemerintah. Amerika serikat dan negara-negara asia juga mengalami hal serupa, sehingga para pemimpin negara-negara tersebut mengadakan pertemuan di Washington AS untuk mendiskusikan langkah-langkah apa yang perlu di tempuh untuk membatasi implikasi-implikasi yang terjadi akibat krisis yang terjadi.
  • GDP Jerman, negara terbesar anggota Uni-Eropa mengalami kontraksi sebesar 0.5 persen pada kuartal ketiga, data terburuk sejak 12 tahun terakhir. Italia dan Irlandia mengalami resesi keempat kalinya dalam rentang waktu kurang dari satu dekade, sementara Spanyol mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 15 thaun terakhir, Belanda mengalami pertumbuhan yang stagnan berturut-turut dalam dua kuartal terakhir.
  • Trade Balance, Italian Trade Balance, Pidato dari Gubernur ECB Trichet pada Lord Roll Memorial Lecture, London yang diselenggarakan oleh The Daiwa Anglo-Japanese Foundation, German PPI, menjadi agenda ekonomi dari kawasan Eropa pekan ini.

Point of View STERLING Pekan Ini


Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Selasa pekan lalu, poundsterling anjlok ke rekor rendah 12 tahun terhadap sejumlah mata uang lainnya dan mendekati level rekor rendah terhadap euro terkait keengganan investor memegang aset yang beresiko dan setelah sejumlah data ekonomi Inggris kembali turun.
  • Nilai tukar steling telah mengalami penurunan tajam sepanjang tahun 2008 ini. Sterling anjlok sebesar 27% sejak mencapai level tahunan tertinggi pada tanggal 14 Maret lalu di posisi 2.0398 dolar.
  • Sementara itu, pekan lalu juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Inggris naik ka laju tertinggi dalam 16 tahun terakhir di bulan Oktober setelah perusahaan dari perbankan memangkas jumlah pekerjanya terkait keadaan ekonomi saat ini yang ditenggarai dalam masa resesi pertama sejak 1991.
  • Harga obligasi pemerintah Inggris dan suku bunga berjangka turun di hari Jumat pekan lalu terkait adanya rebound di bursa saham global yang memicu aksi pengambilan profit setelah penutrunan tajam pada rally fixed income’s diminggu ini oleh berkembangnya perkiraan adanya pemangkasan bunga.
  • Saat ini diharapkan bahwa Bank Sentral Inggris (BoE) akan kembali meninjau kebijakan memangkas bunga untuk menghadang arus ekonomi dari ancaman krisis finansial. Selain iru, bank sentral merilis laporan triwulan inflasi pada perkiraan ekonomi yang terburuk sejak bank menjadi independent di tahu 1997 dan perkiraan inflasi yang dapat turun kurang dari setangah target 2 persen.
  • Rightmove HPI, data penting CPI, Core CPI, Retail Price Index (RPI), dan pidato dari Monetary Policy Committee (MPC) yang diwakili oleh Timothy Besley rilis Selasa (18/11), Rabu (19/11) MPC Meeting Minutes, makin banyak vote dari anggota yang menginginkan pemangkasan bunga, dan Confederation of British Industry (CBI) Industrial Order Expectations, lalu Kamis (20/11) rilis data Retail Sales menjadi fokus pekan ini, Prelim M4 Money Supply, dan data Public Sector Net Borrowing menjadi penutup agenda ekonomi pekan ini.


.

Point of View YEN Pekan Ini


Data ekonomi yang rilis dari Jepang pekan ini;
  • Pergerakan nilai tukar yen pada perdagangan pekan lalu tampak mengalami peningkatan terhadap dolar dan euro. Penguatan nilai tukar mata uang Jepang ini disebabkan oleh spekulasi bahwa pertemuan kelompok G20 akan gagal menemui konsensus dalam memutuskan langkah mengatasi krisis keuangan global yang saat ini sedang melanda dunia.
  • Para pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok G20, termasuk Indonesia, berkumpul di Washington untuk melangsungkan pertemuan membahas langkah dalam mengatasi krisi keuangan global. Pertemuan tersebut akan berlangsung selama dua hari dan dimulai pada hari ini.
  • Perkiraan awal data GDP untuk triwulan ketiga direncakan akan dirilis hari Senin 16 November pada jam 6.50 WIB. Kami memperkirakan sedikit diatas konsensus dari 0.1 persen (0.6 persen tahunan) untuk data triwulan ketiga.
  • Surplus perdagangan diperkirakan akan turun seiring turunnya nilai impor dan volume ekspor mengikuti penurunan perdagangan wilayah Asia yang akan berubah menjadi memburuk. Indikator utama yang terdiri dari indeks komposit utama dan indeks tersier diperkirakan bergerak ke rekor terlemahnya dalam kisaran -0.1 persen untuk data bulan ke bulannya di bulan September.
  • Pekan ini diharapkan menghasilkan kesimpulan dari pertemuan BoJ yang membahas suku bunga utama Jepang untuk mempertahankan tingkat bunga di level 0.3 persen.

Point of View SWISS Pekan Ini


Rilis data ekonomi dari Swiss;
  • Pekan lalu, data Consumer confidence dari Switzerland, ambruk hingga sentuh level terendah sejak 2003. Berada pada -27 dari -17 selama bulan July, demikian menurut SECO.
  • Sedangkan ZEW survey menunjukkan kenaikan, menjadi -88.5 dari sebelumnya berada pada level -91.1 seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap perbaikan perekonomian Swiss.
  • Swiss Franc pekan lalu hampir menyentuh diatas level 1.2000 terhadap dolar AS. Fundamental perekonomian Swiss tampaknya cenderung tidak terpengaruh oleh riuh rendah krisis yang melanda dunia saat ini.
  • Analis memperkirakan SNB akan memangkas suku bunga sebesar 50 bps pada sidang SNB. Menteri ekonomi Swiss Doris Leuthard pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa perekonomian Swiss dapat mengalami resesi dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang minus setidaknya untuk dua kuartal mendatang namun pengangguran diperkirakan tidak akan terlalu meroket tajam.
  • Swiss retail sales dan data trade balance menjadi ikon kalendar ekonomi dari Swiss pekan ini. Kedua data tersebut berpeluang menjadi referensi arah kebijakan bagi Bank Sentral Swiss atau Switzerland National Bank (SNB) dalam menentukan perubahan tingkat suku bunga saat ini.

Point of View AUSSIE Pekan Ini


Yang terjadi di Australia;
  • Tingkat kepercayaan terhadap iklim usaha (Business Confidence) pada rilis kalendar ekonomi pekan lalu turun drastis, terendah selama 11 tahun, demikian ungkap National Australia Bank. Begitu pula dengan rilis Westpac Consumer Confidence rebound melonjak di bulan November akibat pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral. Royal Bank of Australia (RBA) pekan lalu juga telah menurunkan prakiraan Pendapatan Domestik Bruto (PDB), menjadi signal pemangkasan suku bunga lanjutan.
  • Untuk pekan ini, tak banyak publikasi data ekonomi yang datang dari Australia. Riis Real Retail Sales atau biasa dikenal dengan Retail Sales Ex Inflation, Quarterly Retail Sales hadir di awal pekan, Senin (17/11). Data tersebut di-ekspetasikan meningkat. Demikian menurut Australian Bureau of Statistics.
  • Agenda ekonomi penting selanjutnya datang dari Monetary Policy Meeting Minutes yang rencananya dilaksanakan hari Selasa (18/11) dengan bahasan tunggal, suku bunga.
  • Westpac/MI Indexes of Economic Activity atau Melbourne Institute (MI) Leading Index, New Motor Vehicle Sales, dan Gubernur RBA, Glenn Stevens berpidato pada CEDA annual dinner, Melbourne.
  • RBA Monthly Bulletin menjadi penutup kalendar ekonomi dari Australia pekan ini.

Emas Berpeluang Menguat Pekan Ini

Emas bergerak rallied 5.3% sepekan lalu, dengan ditutup pada 742.4, setelah pasar merasa cukup “sold down” logam mulia hingga menyentuh 698.2 Kamis pekan lalu.

Pada perspektif teknis basis mingguannya, kontrak emas masih menguat secara moderat 1.12%. Ada beberapa faktor pendukung penguatan emas di pekan lalu.

Salah satu basis pendukung penguatan emas datang dari Afrika Selatan. Tambang emas dari Afrika Selatan, salah satu produsen emas terbesar di dunia, telah menurunkan tingkat produksi hingga 17 percent, dibanding bulan yang sama tahun lalu.

Sedangkan sisi permintaan akan emas fisik terus melonjak, tentu akibatnya sudah bisa di duga, harga emas menguat karena terbatasnya supply.

Berdasarkan data yang kami peroleh dari berbagai sumber, diketahui bahwa telah terjadi lonjakan permintaan emas dari Saudi Arabia.

Harga emas kembali recovery dari 698.2 menguat sampai 754. Menurut kami, emas masih berpotensi untuk menguat.

Konsolidasi emas mulai dari level 684.60 masih berlangsung, progress. Emas di-ekspetasikan akan mencoba bulish, diatas level resistannya 788.30 pada pekan ini.

Namun, penguatan itu menurut kami terbatas dibawah level 824.5 lalu mencoba kembali test down trend. Jika ternyata emas masih berada dibawah 698.20, berpotensi besar untuk retesting 684.60 dulu.

Dan bila Break level tersebut, akan lebih berpeluang confirm down trend. (riset-iwan)

Fundamental Outlook AS Pekan Ini

Pekan lalu pemerintah AS melalui Menteri Keuangannya, Henry Paulson, menyatakan bahwa pemerintah dengan program Troubled Asset Relief Program (TARP) nya tidak akan membeli aset-aset yang bermasalah.

Demikian dengan data klaim (jobless claim) pengangguran AS yang makin meningkat, tertinggi sejak bulan Desember 1982, menggiring data penjualan eceran (retail sales), dan import prices jatuh, terendah selama bulan Oktober.

Aksi Risk Appetite, aksi dimana investor membeli aset berimbal hasil tinggi atas selisih bunga, dengan membeli dolar AS dan Yen, mewarnai sesi perdagangan sepekan lalu. Tak dipungkiri meski perekonomian AS masih meradang karena terpaan krisis keuangan, dolar AS ternyata masih bertahan dengan status mata uang “safe haven”.

Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke mengatakan di hari Jumat bahwa pasar finansial sedang dalam stress yang tajam dan bank sentral di seluruh dunia akan siap untuk bertindak untuk mencairkan ketegangan kredit.

Ben berpendapat, bahwa langkah yang diambil oleh bank sentral adalah untuk mencairkan ketegangan likuiditas dan memastikan pengadaan jangka pendek dolar AS di seluruh dunia yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi pasar kredit, meskipun dia menggambarkan peningkatan tersebut sebagai langkah “tentantive”.

Beberapa publikasi ekonomi yang akan rilis dari AS selama pekan ini, seperti FOMC minutes, CPI, PPI, regional fed survey dari New York State dan Philadelphia, industrial production, TIC capital flow, new residential construction.

Sementara dari kawasan Eropa, pasar akan lebih fokus pada publikasi November manufacturing dan Services PMI.

Sedangkan dari Asia, Jepang khususnya, rilis Q3 GDP, Tertiary dan all industry index, dan keputusan tentang suku bunga dari Bank of Japan (BoJ) yang mungkin di-ekspetasikan tidak akan berubah, tetap pada level 0.3%.

Beberapa Nota Kesepakatan Sidang Negara-negara G-20


Pertemuan penting negara-negara G-20 telah usai dinihari tadi. Ada beberapa poin penting yang disepakati oleh anggota negara G-20. Berikut teks publikasi asli yang dikutip dari situs resmi Gedung Putih.

Fact Sheet: Summit on Financial Markets and the World Economy

President Bush And World Leaders Agree On The Washington Declaration To Address Current Financial Crisis

Today, President Bush and world leaders gathered for the first in a series of meetings to discuss efforts to strengthen economic growth, deal with the financial crisis, and to lay the foundation for reform to help to ensure that a similar crisis does not happen again. Since the outbreak of this crisis, the world's leading nations have coordinated actions more closely than ever before. Thanks in large part to these decisive measures, once frozen global credit markets are beginning to thaw and businesses around the world are gaining access to essential short-term financing. This problem did not develop overnight, and it will not be solved overnight. No single nation will be able to fix this crisis, but with continued cooperation and determination, it will be solved as long as we are steadfast in our commitment to reforming our financial sectors and maintaining free and open markets.

  • Today's Summit achieved five key objectives. The leaders:
    • Reached a common understanding of the root causes of the global crisis;
    • Reviewed actions countries have taken and will take to address the immediate crisis and strengthen growth;
    • Agreed on common principles for reforming our financial markets;
    • Launched an action plan to implement those principles and asked ministers to develop further specific recommendations that will be reviewed by leaders at a subsequent summit; and
    • Reaffirmed their commitment to free market principles.

  • The leaders agreed that immediate steps could be taken or considered to restore growth and support emerging market economies by:
    • Continuing to take whatever further actions are necessary to stabilize the financial system;
    • Recognizing the importance of monetary policy support and using fiscal measures, as appropriate;
    • Providing liquidity to help unfreeze credit markets; and
    • Ensuring that the International Monetary Fund (IMF), World Bank and other multilateral development banks (MDBs) have sufficient resources to assist developing countries affected by the crisis, as well as provide trade and infrastructure financing.

The Leaders Agreed On Common Principles To Guide Financial Market Reform:

  • Strengthening transparency and accountability by enhancing required disclosure on complex financial products; ensuring complete and accurate disclosure by firms of their financial condition; and aligning incentives to avoid excessive risk-taking.

  • Enhancing sound regulation by ensuring strong oversight of credit rating agencies; prudent risk management; and oversight or regulation of all financial markets, products, and participants as appropriate to their circumstances.

  • Promoting integrity in financial markets by preventing market manipulation and fraud, helping avoid conflicts of interest, and protecting against use of the financial system to support terrorism, drug trafficking, or other illegal activities.

  • Reinforcing international cooperation by making national laws and regulations more consistent and encouraging regulators to enhance their coordination and cooperation across all segments of financial markets.

  • Reforming international financial institutions (IFIs) by modernizing their governance and membership so that emerging market economies and developing countries have greater voice and representation, by working together to better identify vulnerabilities and anticipate stresses, and by acting swiftly to play a key role in crisis response.

Our Nations Will Continue To Take The Right Steps To Get Through This Crisis

The leaders approved an Action Plan that sets forth a comprehensive work plan to implement these principles, and asked finance ministers to work to ensure that the Action Plan is fully and vigorously implemented. The Plan includes immediate actions to:

  • Address weaknesses in accounting and disclosure standards for off-balance sheet vehicles;
  • Ensure that credit rating agencies meet the highest standards and avoid conflicts of interest, provide greater disclosure to investors, and differentiate ratings for complex products;
  • Ensure that firms maintain adequate capital, and set out strengthened capital requirements for banks' structured credit and securitization activities;
  • Develop enhanced guidance to strengthen banks' risk management practices, and ensure that firms develop processes that look at whether they are accumulating too much risk;
  • Establish processes whereby national supervisors who oversee globally active financial institutions meet together and share information; and
  • Expand the Financial Stability Forum to include a broader membership of emerging economies.

The leaders instructed finance ministers to make specific recommendations in the following areas:

  • Avoiding regulatory policies that exacerbate the ups and downs of the business cycle;
  • Reviewing and aligning global accounting standards, particularly for complex securities in times of stress;
  • Strengthening transparency of credit derivatives markets and reducing their systemic risks;
  • Reviewing incentives for risk-taking and innovation reflected in compensation practices; and
  • Reviewing the mandates, governance, and resource requirements of the IFIs.

The leaders agreed that needed reforms will be successful only if they are grounded in a commitment to free market principles, including the rule of law, respect for private property, open trade and investment, competitive markets, and efficient, effectively-regulated financial systems. The leaders further agreed to:

  • Reject protectionism, which exacerbates rather than mitigates financial and economic challenges;
  • Strive to reach an agreement this year on modalities that leads to an ambitious outcome to the Doha Round of World Trade Organization negotiations;
  • Refrain from imposing any new trade or investment barriers for the next 12 months; and
  • Reaffirm development assistance commitments and urge both developed and emerging economies to undertake commitments consistent with their capacities and roles in the global economy.

Gejolak Rupiah dan Ancaman Krisis Baru

Dibanding awal tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) minggu ini telah merosot sekitar 15 persen.

Rupiah yang diperdagangkan di atas Rp11.000 per dolar AS, angka terburuk dalam sepuluh tahun terakhir, membuat pemerintah mengambil kebijakan lanjut berupa sepuluh instruksi untuk menjaga stabilitas nilai tukar (28/10/2008).

Sepuluh instruksi ini masih masuk kategori "lunak", karena belum menyentuh tindakan yang dianggap lebih tegas, seperti pembatasan terhadap arus lalu lintas devisa bebas dan kewajiban repatriasi devisa oleh para eksportir yang rajin memarkir perolehan ekspor di bank-bank luar negeri.

Meski berkali-kali selalu dikemukakan penurunan rupiah merupakan hal yang wajar--dan penurunan tersebut relatif lebih baik dibanding sejumlah mata uang lain--terkesan kuat pemerintah berusaha keras memerangi psikologi massa yang berspekulasi nilai rupiah akan terus merosot mendekati kisaran Rp12.500.

Pasar menduga penguatan dolar akan terus berlangsung bila Barack Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru dalam pemilu 4 November ini. Dalam hal rencana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, pernyataan presiden dan wakil presiden (wapres) dianggap bertentangan.

Presiden menyatakan harga BBM akan segera turun (28/10/2008), tetapi wapres menegaskan harga BBM sulit turun tahun ini (31/10/2008). Sikap yang agak berbeda terhadap penurunan nilai tukar rupiah juga terlihat. Presiden terlihat lebih "khawatir" dibanding wapres.

Dalam keadaan normal, penurunan rupiah membawa berkah besar bagi para eksportir. Rupiah yang turun akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di luar negeri. Strategi penurunan nilai kurs (depresiasi dan devaluasi) sejak lama digunakan sebagai strategi peningkatan ekspor. Hanya dalam konteks saat ini,ketika permintaan pasar luar negeri melemah, penurunan rupiah tidak banyak berarti, apalagi di tengah merosotnya harga sejumlah komoditas primer.

Yang terpukul adalah industri yang melayani pasar domestik tetapi memiliki kandungan impor tinggi. Biaya produksi industri ini meningkat tajam, tetapi tidak secara leluasa meneruskan kenaikan biaya tersebut ke konsumen. Industri automotif dan elektronik masuk dalam kategori ini.

Kalangan pengusaha sudah menyampaikan perkiraan akan terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai tahun depan dan terus meminta pemerintah memberikan insentif baru. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati termasuk yang paling sibuk melayani permintaan ini sehingga mengharapkan agar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tidak merongrong pemerintah dengan membuat berbagai pernyataan yang mencekam (20/10/2008).

Dalam kondisi seperti sekarang, industri yang memiliki kandungan impor rendah dan melayani pasar domestik akan diuntungkan, karena harga jualnya semakin kompetitif dibanding produk saingan asal impor.Hanya sayang, sebagian besar industri dalam kategori ini belakangan tertatih-tatih menghadapi gelombang deras liberalisasi pasar, arus impor ilegal, dan semakin tergilagilanya konsumen domestik terhadap segala sesuatu yang datang dari luar negeri.

Yang menjadi ancaman serius adalah gabungan dari sejumlah persoalan yang saat ini terjadi bersamaan: inflasi tinggi, pengangguran tinggi, kebergantungan impor yang tinggi, penguasaan negara terhadap sumber daya strategis nasional yang rendah, angka utang absolut yang terus membesar,dan tingkat ketimpangan pendapatan yang tinggi. Penanganan yang setengahsetengah dan tambal sulam terhadap persoalan-persoalan besar ini dapat melahirkan krisis kepercayaan baru.

Kehati-hatian pemerintah dalam menghadapi gejolak krisis keuangan kali ini tetap kita hargai.Namun,berbagai kebijakan yang diluncurkan terkesan masih reaktif, kurang antisipatif. Rangkaian kebijakan yang diambil dalam dua bulan terakhir ini mestinya sudah dilakukan selambat- lambatnya awal 2008. Tampaknya manajemen kebijakan kita terjangkiti penyakit "krisis dulu baru cari solusi".

Kita belum percaya kalau hal yang kita khawatirkan belum betul-betul terjadi. Batas antara kehati-hatian dan keragu-raguan memang tipis.Namun,kebijakan yang kurang antisipatif bisa melahirkan dua masalah. Masalah pertama,apa yang disebut sebagai fenomena "kodok rebus". Maksudnya, ketika sadar krisis sedang terjadi, kita sudah tidak berdaya untuk melahirkan terobosan kebijakan.

Persis seperti kodok yang terlena dalam air hangat yang dipanaskan secara perlahan. Begitu suhu meningkat, sang kodok tidak berdaya untuk melompat. Masalah kedua adalah pe-nilaian bahwa apa pun yang akan diputuskan pasar akan dinilai sebagai kebijakan yang tidak penting dan terlambat (too little too late). Kebijakan seperti ini dianggap tidak mampu membalikkan sentimen pasar.

Di sini, ketegasan arah kebijakan kalah kuat dari gosip atau rumor. Tidak mengherankan apabila belakangan banyak kalangan mulai berani meramalkan rupiah akan terjun bebas, seperti yang terjadi pada 1997-1998, karena kebijakan yang muncul dianggap sama dengan rangkaian kebijakan yang lama. Kita hanya berharap pelajaran berharga dari krisis 1997-1998 tidak kita lupakan.

Jangan sampai kita begitu yakin menilai konstelasi krisis sudah berbeda, sehingga skenario penyelamatan ekonomi didasarkan atas asumsi yang manismanis. Yang manis mudah ditelan. Kita harus menyusun skenario untuk kondisi paling pahit yang bisa terjadi