Saat negara-negara adidaya ekonomi dunia menyatakan diri terjangkit resesi, Indonesia untuk sementara kebal terhadap ‘virus’ tersebut. Betapa tidak, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III mencapai 3,5% dibanding kuartal II-2008. Sedangkan bila dibandingkan kuartal saham 2007, menurut pengumuman Badan Pusat Statistik, Senin (17/11), PDB tersebut tumbuh 6,1%.Jelas ini merupakan prestasi yang patut kita syukuri, di tengah sentimen negatif global dalam beberapa hari terakhir ketika negara-negara kaya dan makmur satu per satu akhirnya harus menerima kenyataan pahit diterjang resesi. Setelah Amerika Serikat, Uni Eropa, Hong Kong, Singapura, dan Selandia Baru, kemarin Jepang resmi masuk dalam pusaran resesi.
Mencermati struktur PDB kita, semua sektor ekonomi tumbuh, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor pertanian sekitar 6,7%. Sektor pertanian melesat karena didukung pertumbuhan mengesankan produk subsektor perkebunan, sebesar 29,3%.
Industri pengolahan juga masih tumbuh 3,2%. Sektor inilah yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal III berdasarkan harga berlaku, senilai Rp 371,8 triliun atau 27,7% dari total PDB. Sektor yang pertumbuhannya juga bagus dan memiliki andil besar terhadap PDB adalah perdagangan, hotel, dan restoran.
Namun, ‘masa kejayaan’ pertumbuhan PDB tersebut tampaknya harus berakhir di ujung kuartal tahun ini. Sebab, semua tahu, berdasarkan prediksi ekonom maupun otoritas yang berkompeten, mulai kuartal IV ini bakal ada perlambatan ekonomi. Kondisi ini akan berlanjut pada tahun depan, yang diperkirakan PDB hanya akan tumbuh sekitar 5%.
Ada beberapa fakta dan tren yang memperkuat asumsi tersebut. Pertama, subsektor perkebunan yang dalam dua kuartal terakhir tumbuh sangat signifikan bakal melempem mulai kuartal IV. Hal itu terjadi seiring anjloknya harga komoditas utama perkebunan kita, seperti minyak sawit mentah (CPO), karet, kopi, dan kakao. Harga komoditas itu terpangkas 40-60% dari level tertingginya tahun ini.
Kedua, industri pengolahan yang memberi andil terbesar dalam PDB mulai dirundung masalah. Tekanan dialami oleh industri padat karya seperti tekstil dan sepatu, serta sejumlah industri unggulan, antara lain elektronik, komponen, dan industri berorientasi ekspor lainnya. Masalah muncul karena konsumen utama produk-produk unggulan tersebut adalah negara-negara maju yang kini mengalami resesi, sehingga mereka mengerem konsumsi.
Industri berorientasi ekspor itu sedang dihadapkan pada pembatalan kontrak dan order dari pembeli luar negeri, revisi kontrak, bahkan ada yang gagal bayar. Itulah yang kemudian memicu pemutusan hubungan kerja di industri-industri manufaktur unggulan. Hingga semester I tahun depan, PHK diduga bakal meluas.
Inilah ironinya, pertumbuhan tinggi tapi dibayangi PHK yang berpotensi meningkatkan angka pengangguran. Hal ini akan memperkuat label yang selama ini melekat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang berkualitas.
Dengan tren ekonomi yang akan melambat dalam atmosfer global yang suram, momentum pertumbuhan ekonomi harus dipelihara, betapapun susahnya.
Untuk itu, pemerintah perlu mempertimbangkan sejumlah usulan pengusaha tentang perlunya stimulus untuk menyelamatkan sektor riil. Di antaranya adalah percepatan pencairan paket stimulus sektor riil senilai Rp 12,5 triliun, penurunan bunga kredit, kemudahan restitusi pajak, serta pemangkasan ekonomi biaya tinggi dan biaya logistik pelabuhan.
Selain itu, untuk mengkompensasi penurunan ekspor, pasar domestik perlu dioptimalkan dengan meningkatkan daya beli rakyat, sehingga konsumsi pun meningkat, yang berpotensi mendongkrak PDB. Pencairan belanja negara harus dipercepat karena juga merupakan komponen penting PDB.
Dalam situasi ketidakpastian saat ini, perlu didorong sinergi pemerintah dan pengusaha. Ide-ide kreatif dan suasana kondusif perlu diciptakan bersama agar penurunan PDB dan gelombang PHK bisa diminimalisasi.
