rss

Friday, November 28, 2008

Minyak Turun Tipis, Fokus Pertemuan OPEC di Kairo

Hampir seluruh pasar saham di Asia dan Kanada kemarin ditutup menguat. Begitupula dengan pasar saham di kawasan Eropa, turut menguat.

Penguatan yang serempak pada pasar saham global kemarin, menurut kami, pasar sudah mulai merespon positif atas berbagai aksi taktis penangan krisis oleh hampir seluruh pemerintahan di dunia.

Di AS, Wall Street kemarin libur merayakan Thanksgiving

Sementara itu, harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Kamis waktu AS, diperkirakan pasar masih menanti pertemuan akhir pekan OPEC di Kairo, dimana kartel produsen minyak mentah itu akan memutuskan lagi penurunan produksinya.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah terus mengamati kejatuhan harga minyak dari rekor tertinggi di atas 147 dolar AS pada Juli, yang memicu kekhawatiran serius di antara para anggotanya tentang jatuhnya pendapatan mereka.

Minyak mentah light sweet untuk penyerahan Januari, turun 22 sen menjadi 54,22 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Di InterContinental Exchange (ICE), London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari jatuh 39 sen menjadi 53,53 dolar AS.

Secara mengejutkan, Rabu (26/11) kemarin Bank Sentral China (The People's Bank of China) mengumumkan pemangkasan bunga (cut lending rate) dan suku bunga deposito sebesar 108 bps hingga menjadi masing-masing 5.58% dan 2.52%.

Aksi dari Bank Sentral China tersebut diyakini sebagai tindakan untuk menstimulasi aktifitas ekonomi negara, penyusutan tingkat PDB sebesar 9%, rekor terendah sejak lima-tahun menjadi referensi utamanya.

Pada perdagangan Jumat (28/11), IHSG masih memiliki peluang untuk bertahan di zona hijau. Namun, penurunan harga minyak mentah di US$ 53 per barel juga patut diwaspadai.

Jika sektor tambang dan komoditas lainnya merespons negatif penurunan harga minyak itu, ada kemungkinan itu akan memicu aksi ambil untung, seperti yang terjadi sejak sesi perdagangan siang kemarin.

Dengan libur Thanksgiving di Amerika, membuat investor lokal akan mengacu dalam bertransaksi ke bursa regional hari ini.

Namun, jika mengacu pada hasil perdagangan tiga hari terakhir yang terus menguat, ada peluang sejumlah investor untuk mulai merealisasikan gain mereka hari ini.

Penurunan harga saham Bumi Resources (BUMI) yang kembali melorot di bawah Rp 1.000 per barel, juga akan mempengaruhi pergerakan harga saham di sektor tambang.

Tetapi selain kemungkinan penurunan, ada juga peluang untuk menguat, yaitu dari sektor keuangan menyusul ekspektasi Bank Indonesia akan menurunkan tingkat sukubunga acuannya pada pertemuannya pekan depan.

Penurunan tingkat sukubunga acuan di tengah krisis saat ini sangat diharapkan para pelaku bisnis untuk menggerakkan perekonomian nasional, seperti yang telah dilakukan oleh sebagian besar negara lain di dunia.

Emas Menguat Tipis, Cenderung Sideways

Harga emas berjangka pada perdagangan elektronik Nymex di Asia kemarin (27/11) terpantau mengalami pergerakan yang stabil. Harga komoditas ini mengalami penguatan tipis setelah euro mengalami rebound terhadap dolar AS. Pergerakan menguat emas diperkirakan akan berlanjut seiring aksi pembelian aset safe haven setelah penyerangan teroris di Mumbai mengguncangkan sektor keuangan di negara tersebut.

Pada penyerangan yang terjadi di India tersebut setidaknya 104 orang tewas dan 200 orang lainnya terluka. Pada hari ini bursa saham di India terpaksa di-suspen karena dampak dari penyerangan tersebut belum terukur. Para teroris tersebut menjadikan orang-orang asing sebagai sasaran.

Harga emas spot mengalami peningkatan sebesar 35 sen menjadi 812.10 dolar per ons. pada hari Rabu lalu harga emas spot ini mencapai level tertingginya dalam enam minggu belakangan. Harga emas berjangka Nymex untuk kontrak bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebesar 30 sen menjadi 811.5 dolar per ons.

Untuk jangka panjang pergerakan harga emas masih memiliki potensi besar untuk menguat. Retreat emas hari ini merupakan kondisi yang wajar karena harganya telah naik tinggi. Untuk saat ini harga emas akan menemui support kuat di level 739-750 dolar per ons.

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;
  • Indikator the euro zone’s business climate (BCI) anjlok ke level terendah lebih dari 15 tahun di bulan November, demikian dijelaskan laporan data Komsisi Eropa seperti dilansir Reuters, Kamis. Indikator yang menggambarkan laju perputaran bisnis, jatuh hingga minus 2.14 poin dari Oktober di minus 1.34 poin. Pasar memperkirakan keluaran angka minus 1.5. Saat ini indicator mulai mendekati level yang terakhir di lihat pada tahun 1993.
  • Pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar pada perdagangan kemarin (27/11) terpantau mengalami rebound. Setelah kemarin mengalami penurunan yang cukup besar, euro mengalami kenaikan didorong oleh data buruk dari AS. Malam tadi AS libur Thanksgiving.
  • Departemen Tenaga Kerja Jerman kemarin (27/11) menyatakan bahwa tingkat pengangguran pada bulan November ini mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa tingkat pengagguran mengalami penurunan tipis sebesar 0,1% menjadi 7,1%, atau sebanyak 2,988 juta orang. Menurunnya tingkat pengangguran tersebut bertolak belakang dengan prediksi yang dilakukan oleh para ekonom yang sebelumnya memperkirakan bahwa pengangguran akan menurun sebesar 3000 orang.
  • Disaat yang bersamaan, Departemen Perdagangan Jerman mengumumkan data mengenai penjualan ritel pada bulan November ini yang dilaporkan meningkat sebesar 1% menjadi total 74,7 miliar euro. Meningkatnya penjualan ritel terbilang wajar mengingat sesaat lagi akan datang hari raya Natal dan tahun baru, dimana pada saat ini biasanya banyak toko-toko yang menerapkan diskon yang dapat meningkatkan volume pembelian dari konsumen.
  • Hari ini, Consumer Price Index (CPI) Flash Estimate, Italian Prelim CPI, dan Unemployment Rate akan rilis dari kawasan Eropa berbarengan rilis pukul 17.00 WIB.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Departemen Perdagangan Inggris kemarin (27/11) mengumumkan bahwa harga rumah pada bulan November ini mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa harga rumah bulan November telah mengalami penurunan sebesar 0,4%. Sehingga dalam satu tahun terakhir harga rumah telah mengalami penurunan sebesar 13,9%, dengan rata-rata penurunan mencapai 158.442 pounds.
  • Data di sektor properti ini semakin memberikan korelasi kepada kondisi belum pulihnya perekonomian Inggris. Bank Sentral Inggris (BoE) pada pekan depan berencana akan kembali melakukan pemangkasan tingkat suku bunganya sebesar 1,5%. Langkah yang diambil BoE ini merupakan kebijakan moneter terakhir yang akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Terpuruknya sektor riil dan manufaktur setidaknya memberikan gambaran bahwa perekonomian Inggris menuju ambang resesi.
  • British Pounds, meski cenderung bergerakan flat namun pergerakannya diperkirakan akan masih berada pada teritori positif.
  • GfK NOP Consumer Confidence Barometer dan Confederation of British Industry (CBI) rilis pukul 18.00 WIB akan menjadi agenda ekonomi penutup pekan ini



.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;
  • Pergerakan nilai tukar yen pada perdagangan kemarin (27/11) terpantau masih menguat terhadap dolar dan euro. Mata uang Jepang ini telah mengalami peningkatan selama tiga hari berturut-turut terhadap euro di tengah spekulasi bahwa resesi global akan mengakibatkan carry trade semakin berkurang karena minat para investor terhadap aset high-yield turun.
  • Pergerakan transaksi mata uang di Asia hari ini akan cenderung bervolume rendah karena bursa AS akan ditutup untuk libur Thanksgiving.
  • Mata uang Jepang, Yen, diperkirakan tren untuk jangka menengah pergerakannya masih akan cenderung memperlihatkan penguatan. Yen merupakan mata uang yang terpengaruh oleh aksi carry trade. Dengan kondisi sektor keuangan yang masih rentan saat ini carry trade mernjadi kurang diminati sehingga yen berpotensi terus menguat.
  • Mixed hasil rilis data dari Jepang di pagi ini, diantaranya Manufacturing PMI, Household Spending turun menjadi -3.8%, Tokyo Core CPI melemah, semula 1.5% menjadi 1.1%; National Core CPI, Unemployment Rate, Prelim Industrial Production menyusut menjadi -3.1%; sedangkan Retail Sales naik, dari 03% ke 0.6%.

Point of View SWISS Hari Ini

Rilis data ekonomi dari Swiss;
  • Koreksi dollar terhadap mata uang utama dunia juga berlangsung pada Swiss franc yang berhasil menguat setelah pemangkasan suku bunga SNB pekan lalu sebesar 100 bps. Analis memperkirakan pemangkasan suku bunga SNB tersebut akan segera diikuti oleh banks sentral negara lain.
  • Bailout senilai 20 juta USD dari pemerintah AS pada perusahaan keuangan terkemuka CitiGroup mengangkat minat pelaku pasar pada aset-aset beresiko, atau setidaknya menahan aksi risk aversion yang marak akhir-akhir ini.
  • Kalendar ekonomi Swiss pekan ini penuh dengan rilis indikator yang signifikan, namun masih berada pada bayang-bayang ancaman pemangkasan bunga lagi oleh SNB.
  • Fokus data fundamental terpenting pekan ini berasal dari rilis agenda KOF Swiss leading indicator, Konjunkturbarometer; beberapa analis meng-ekspetasikan melemah, turun dari 0.35 menjadi 0.20, menjadi level terendah selama lima-tahun ini.
  • KOF indicator merupakan kombinasi dari 12 data ekonomi yang berkorelasi terhadap tingkat kepercayaan Sektor Perbankan, tingkat produksi perusahaan, pesanan baru, kepercayaan konsumen dan pertumbuhan sektor perumahan.

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;
  • Pergerakan nilai tukar aussie pada perdagangan kemarin (27/11) terpantau mengalami peningkatan yang cukup sifnifikan. Aussie menguat terhadap dolar AS setelah bursa Wall Street mengalami lonjakan tajam pada penutupan perdagangannya dini hari tadi.
  • Wall Street membukukan kenaikan tajam setelah Presiden terpilih Obama mengumumkan Paul Volcker sebagai ketua dewan penasihat ekonomi kabinetnya. Sementara itu harapan bailout terhadap sektor otomotif di AS juga membangkitkan sentimen positif bagi bursa saham.
  • Penguatan Ozzy ini juga disokong oleh rencana bailout yang dilakukan oleh beberapa negara di kawasan Eropa, kurang lebih 259 milyar dolar AS akan digelontor untuk menstimulus perekonomian negara-negara di kawasan itu.
  • Hanya rilis data Private Sector Credit dari Ozzy hari ini.

Thursday, November 27, 2008

Penanganan Krisis Terpadu, Picu Penguatan Pasar Saham AS

Kegairahan beli saham terjadi di Wall Street pada perdagangan Rabu (26/11), terutama terhadap saham teknologi, sehingga membuat indeks harga saham melambung cukup tinggi.

Selain itu, harga sebagian besar saham di indeks Dow Jones terangkat setelah pasar mendapat sinyal bakal ada titik terang pada rencana bailout tiga raksasa otomotif AS. Setelah Deutsche Bank mengungkapkan soal kemungkinan mendapatkan injeksi.

Dengan bekal harapan yang ada, harga saham General Motors (GM) dan Ford Motor Co melambung hingga 30-35%, yang mendongkrak saham-saham lainnya karena pasar mulai percaya dengan upaya penanganan krisis.

Sementara itu, minyak menguat hingga 7.2% dan menembus level $50, dan memicu saham-saham energi untuk bergerak menguat. Chevron dan ExxonMobil memimpin penguatan dengan menguat masing-masing 4.4% dan 3.6%.

Meski indikator-indikator perekonomian tidak menunjukkan angka yang menggembirakan. Permintaan durable goods, Chicago PMI, sentimen konsumen, dan new home sales, semuanya anjlok di luar ekspektasi. Hanya klaim pengangguran (jobless claim) yang mencatatkan angka lebih bagus dari perkiraan.

Hari ini atau malam nanti tepatnya WIB, bursa AS libur karena Thanksgiving Days.

Akhirnya indeks Dow Jones melonjak 247,14 poin menjadi 8.726,61. Sementara indeks Standard & Poor's 500 menanjak 30,29 poin menjadi 887,68. Untuk indeks Nasdaq mengalami lompatan 67,37 poin menjadi 1.532,10. (research-iwan)

Emas Melemah, Dolar AS Rebound

Harga emas mengalami penurunan dari level tertingginya dalam enam minggu pada perdagangan kemarin (26/11). Harga emas anjlok seiring dengan rebound yang dialami oleh dolar AS.

Dolar AS bergerak rebound terhadap euro. Rebound yang dialami oleh dolar AS ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa paket stimulus fiskal sebesar 800 miliar dolar yang berencana dikucurkan oleh Fed tidak akan mampu mengangkat kondisi ekonomi AS yang sedang terjun ke dalam jurang resesi.

Harga emas spot mengalami penurunan sebesar 1.1% menjadi 811.88 dolar per ons. Harga emas sempat menguat ke level 830.99 pada perdagangan kemarin, tertinggi sejak tanggal 16 ktober. Emas berjangka Nymex untuk kontrak bulan Desember mengalami penurunan sebesar 0.9% menjadi 813.50 dolar per ons.

Harga emas masih cenderung akan menguat. Harga emas riil saat ini tergolong relatif murah. Harga emas diperkirakan akan mampu melampaui rekor yang dicapai bulan Maret lalu di posisi 1000 dolar per ons.

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Dari pidato Trichet di Cairo kemarin, Bank Sentral Eropa mengemukakan perkiraan untuk pandangan ekonomi zona eropa akan turun di tahun 2009 namun semua itu masih menunggu proyeksi staff bank sentral, ungkap Presiden ECB Jean-Claude Trichet sebagaimana dikutip dari Reuters.
  • Trichet mengatakan kepada Koran Al Ahram bahwa “kami akan meninjau” apakah proyeksi staff sistem eropa menunjukan penurunan tersebut ketika mengeluarkan perkiraan pertumbuhan dan inflasi yang dirilis pada 4 Desember nanti, saat ECB juga diperkirakan akan memangkas bunga sebesar 50 basis poin ke level 2.75 persen.
  • Pihak Uni Eropa kemarin juga (26/11) memberikan kepastian mengenai besaran paket stimulus perekonomian yang rencananya akan dikucurkan kepada beberapa negara Eropa yang saat ini sedang mengalami krisis ekonomi. Berdasarkan laporan tersebut, Uni Eropa rencananya akan mengucurkan dana sebesar 200 miliar euro. Paket sitmulus tersebut akan mulai dikucurkan pada bulan Desember mendatang.
  • Disisi lain, pihak Uni Eropa belum menjelaskan negara-negara mana yang akan menjadi tujuan dari paket stimulus tersebut. Kepastian mengenai hal tersebut rencananya akan dibahas pada pertemuan negara-negara Uni eropa pada 11-12 desember mendatang di Brussels, Belgia. Langkah yang dilakukan oleh Uni Eropa tersebut merupakan hasil kesepakatan dengan beberapa negara kuat Eropa seperti Perancis dan Jerman.
  • Seperti kita ketahui sebelumnya, dua pemimpin negara tersebut yaitu Angela Merkel dan Nicholas Sarkozy pada hari Senin lalu mengadakan pertemuan dengan pihak Uni Eropa. Dalam pertemuan tersebut diketahui bahwa Perancis dan Jerman sedang melakukan lobi dengan pihak Uni Eropa untuk segera mengucurkan dana bantuan. Pihak Jerman sendiri telah mengajukkan proposal senilai 32 miliar euro.



※ Hari ini, Rabu (26/11), dari kawasan Eropa akan rilis agenda ekonomi German Import Prices m/m dan Prelim CPI m/m, serta pukul 15.30 WIB nanti, Gubernur ECB, Trichet berencana akan pidato bersama dengan Gubernur Bank Sentral Mesir, Egyptian Central Bank, Farouk el-Okdah, di Cairo.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Badan statistik Inggris kemarin (26/11) merilis data GDP Inggris, diumumkan bahwa GDP pada kuartal 3 ini telah tumbuh negatif 0.5% (q/q). Memburuknya ekonomi Inggris ini dikarenakan anjloknya pengeluaran konsumen menjadi pemicu anjloknya perekonomian Inggris pada kuartal 3 ini. Anjloknya ekonomi Inggris ini telah diprediksi sebelumnya oleh para analis.
  • Pengeluaran konsumen pada kuartal 3 ini anjlok 0.2%. Hal ini merupakan penurunan terbesar sejak kuartal 1 1995 lalu. Selain itu turunnya pengeluaran konsumen ini menjadi penurunan selama dua kuartal berturut –turut karena pada kuartal 2 lalu pengeluaran konsumen Inggris juga tumbuh negatif.
  • Pemerintah Inggris sendiri memperkirakan ekonomi Inggris masih akan terus kontraksi setidaknya hingga semester 1 tahun depan. Pada tahun depan ekonomi Inggris diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 0.75-1.25%. Hal ini diungkapkan Menteri Keuangan Inggris Alistair Darling senin lalu di Parlemen Inggris.
  • Nationwide HPI m/m akan menjadi satu-satunya rilis agenda ekonomi dari Inggris hari ini, direncanakan publikasi pada pukul 14.00 WIB.



.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;
  • Pergerakan nilai tukar yen pada perdagangan kemarin (26/11) terpantau mengalami kenaikan yang cukup tajam terhadap euro dan dolar AS. Mata uang Jepang ini menguat setelah GDP pada kuartal ketiga di AS yang diumumkan malam tadi mengalami kontraksi. Kondisi ini memberikan ketidakpastian yang makin nyata di sektor keuangan global sehingga mengakibatkan aksi carry trade kembali tertahan.
  • Mata uang Jepang, Yen, diperkirakan tren untuk jangka menengah pergerakannya masih akan cenderung memperlihatkan penguatan. Yen merupakan mata uang yang terpengaruh oleh aksi carry trade. Dengan kondisi sektor keuangan yang masih rentan saat ini carry trade mernjadi kurang diminati sehingga yen berpotensi terus menguat.
  • Sidang-sidang dan pertemuan para anggota BoJ dengan pembahasan berbagai kebijakan Monetary akan mewarnai rilis agenda ekonomi sepanjang hari ini dari Jepang.

Point of View SWISS Hari Ini

Rilis data ekonomi dari Swiss;

  • Koreksi dollar terhadap mata uang utama dunia juga berlangsung pada Swiss franc yang berhasil menguat setelah pemangkasan suku bunga SNB pekan lalu sebesar 100 bps. Analis memperkirakan pemangkasan suku bunga SNB tersebut akan segera diikuti oleh banks sentral negara lain.
  • Bailout senilai 20 juta USD dari pemerintah AS pada perusahaan keuangan terkemuka CitiGroup mengangkat minat pelaku pasar pada aset-aset beresiko, atau setidaknya menahan aksi risk aversion yang marak akhir-akhir ini.
  • Kalendar ekonomi Swiss pekan ini penuh dengan rilis indikator yang signifikan, namun masih berada pada bayang-bayang ancaman pemangkasan bunga lagi oleh SNB.
  • Fokus data fundamental terpenting pekan ini berasal dari rilis agenda KOF Swiss leading indicator, beberapa analis meng-ekspetasikan melemah, turun dari 0.35 menjadi 0.20, menjadi level terendah selama lima-tahun ini.
  • Hari ini tak ada publikasi agenda ekonomi dari Swiss.

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;
  • Australia Dolar dan New Zealand dolar menguat dalam rentang empat-hari perdagangan. Penguatan pada pasar saham as, Wall Street serta pemangkasan bunga terbesar, sentuh rekor terbesar selama 11-tahun, yang dilakukan oleh pemerintah China. Picu aksi beli oleh investor atas aset yang berimbal balik tinggi.
  • Penguatan Ozzy ini juga disokong oleh rencana bailout yang dilakukan oleh beberapa negara di kawasan Eropa, kurang lebih 259 milyar dolar AS akan digelontor untuk menstimulus perekonomian negara-negara di kawasan itu.
  • Data yang rilis hari ini, Kamis (27/11), dari Australia yakni data kuartalan Private Capital Expenditure. Data ini sebagai indikator atas total inflasi setelah disesuaikan dengan kebutuhan belanja modal baru (new capital expenditures) yang dilakukan oleh private businesses.

Wednesday, November 26, 2008

Wall Street Beragam, the Fed Umumkan Paket Penyelamatan

Wall Street pada perdagangan Selasa (25/11), dinihari tadi WIB, masih menunjukkan kinerja yang cukup, meski tidak semua indeks menguat, cenderung beragam atau mixed.

Kondisi itu terkait dengan meningkatnya optimisme pasar, diperkirakan bahwa paket penyelamatan yang diluncurkan the Federal Reserve dapat membangkitkan kembali kepercayaan pasar perumahan dan juga memberi kesempatan lagi kepada konsumen untuk mendapatkan kredit.

Namun, tidak demikian dengan indeks Nasdaq yang berakhir melemah. Pelemahan itu disebabkan ambruknya saham-saham teknologi seiring dengan makin turunnya permintaan.

Kabar terburuk dari sektor teknologi adalah ketika Cisco Systems (CSCO.O) mengumumkan bahwa mereka akan menutup sebagian besar operasionalnya di AS dan Kanada selama lima hari. Langkah itu diambil sebagai upaya memangkas biaya.

Selain itu, pasar kemarin juga tidak terlalu bersemangat karena pemerintah mengumumkan bahwa PDB AS untuk kuartal ketiga tahun ini turun 0,5%, meski sesuai ekspetasi, tapi Itu menunjukkan bahwa AS sudah semakin dekat dengan resesi.

Akibatnya, indeks Dow Jones hanya naik 36,47 poin menjadi 8.479,86. Untuk indeks Standard & Poor's 500 menguat 5,59 poin menjadi 857,40. Namun, indeks Nasdaq rontok 7,29 poin menjadi 1.464,73

Sementara itu dari dalam negeri, setelah mencicipi zona positif pada perdagangan Selasa (25/11), Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan Rabu ini (26/11).

Apalagi Wall Street semalam berakhir mixed dengan indeks Dow Jones hanya naik 36 poin, sementara indeks Nasdaq rontok akibat jatuhnya saham-saham teknologi.

Namun, tekanan paling parah yang kemungkinan akan menahan laju pergerakan indeks di BEI adalah jatuhnya harga minyak yang kembali ke kisaran US$ 50 per barel, dari sebelumnya di US$ 54 per barel.

Jika dalam dua hari perdagangan terakhir sektor tambang menjadi penyumbang kenaikan terbesar, ada kemungkinan hari ini akan terjadi yang sebaliknya. Jika itu terjadi, maka dapat diprediksikan IHSG akan tertahan.

Saham kelompok Bakrie, yang banyak berkecimpung di bisnis energi, kemarin menjadi saham-saham yang mengerakkan bursa. Tapi jika harga minyak jatuh seperti saat ini, ada kemungkinan kelompok usaha ini juga akan menggerus kenaikan yang terjadi kemarin.

Jadi, ada potensi cukup besar para investor akan melakukan aksi ambil untung hari ini dengan kondisi eksternal yang kurang menguntungkan. (sumber:pojokberita.web.id)

Emas Melemah, Sentimen Negatif atas Turunnya GDP AS

Harga emas pada perdagangan pada pasar New York semalam (25/11) masih menunjukkan posisi melemah mengikuti negatifnya pergerakan harga minyak mentah. Melemahnya harga emas itu disebabkan oleh flatnya pergerakan euro dan pounds terhadap dollar. Kondisi tersebut terbilang wajar mengingat para investor telah kembali melepas posisinya akibat menguatnya bursa saham diseluruh kawasan.

Emas spot saat ini mengalami penurunan sebesar 12,90 dollar atau 1,57% menjadi 806,6 dollar/ons. Sedangkan emas berjangka untuk kontrak bulan Desember mengalami penurunan sebesar 8,3 dollar atau 1% menjadi 811,20 dollar.

Pelemahan juga dialami oleh beberapa komoditi logam seperti perak yang melemah 1,9% menjadi 10,35 dollar/ons, platinum turun 1 dollar atau 0,1% menjadi 865 dollar/ons dan paladium bergerak konstan di level 195,5 dollar/ons.

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;
  • Komisi Eropa akan menyusun draft di hari Rabu yang ditujukan untuk merangsang perekonomian eropa yang terpukul oleh resesi termasuk pertambahan nilai pemotongan pajak dan menyerukan untuk pemangkasan suku bunga ECB, seperti ditunjukan oleh dokumen draft Komisi Eropa seperti dikutip oleh Reuters, Senin.
  • Proposal draft, yang diperkirakan Reuters, tidak mencantumkan perincian rencana stimulus, yang dikatakan Jerman minggu lalu dapat diperkirakan akan senilai 1 persen dari jumlah GDP Eurepean Union’s, atau senilai 130 milyar euro ($164 milyar). Jumlah final dari program tersebut, ditujukan untuk membantu uni eropa untuk keluar dari krisis finansial, yang akan diputuskan di hari Rabu esok setelah konsultasi pihak pemerintah setempat dengan Presiden Komisi Jose Manuel Barroso.
  • Business confidence Jerman anjlok hingga level terendah hampir 16 tahun terakhir di bulan November terkait krisis finansial global yang melemahkan permintaan untuk ekspor.
  • Basis Ifo institute di Munich menyatakan bahwa business climate index, diambil dari survey 7,000 eksekutif, yang anjlok ke 85.8 dari 90.0 di bulan Oktober. Level terendah sejak Februari 1993. “Saya memperkirakan ECB akan pangkas bunga minimal 75 basis poin, jika tidak 100 basis poin,” demikian disampaikan ekonom Ifo Gernot Nerb yang dikutip dari Bloomberg..
  • Hari ini, Rabu (26/11), dari kawasan Eropa akan rilis agenda ekonomi German Import Prices m/m dan Prelim CPI m/m, serta pukul 15.30 WIB nanti, Gubernur ECB, Trichet berencana akan pidato bersama dengan Gubernur Bank Sentral Mesir, Egyptian Central Bank, Farouk el-Okdah, di Cairo.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • British pound menguat terhadap dollar AS dan euro setelah pasar saham mereka juga menguat. Para investor masih melakukan bargain hunting atas aset yang berimbal balik besar.(higher-yielding assets).
  • Sentimen positif lain bagi penguatan Sterling kemarin datang dari rencana the Fed yang akan memberi bantuan kepada berbagai negara di Asia, demi menaikkan daya beli dan mengangkat pasar saham di Asia maupun Eropa.
  • Aksi carry trades, masih mendominasi perdagangan antara British Pound dengan Swiss Franc. Carry trade ini adalah situasi dimana investors mendapatkan funds/dana/pinjaman dari negara yang rendah tingkat borrowing costs nya, lalu kemudian mengalihkan dana-dana tersebut pada negara yang memiliki higher interest rates, suku bunga yang tinggi. Selisih bunga merupakan pendapatan investor.
  • Revised GDP rencana rilis hari ini pukul 16.30 WIB bersama Index of Services 3m/3m.




.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;
  • Gap output Jepang, sebagai definisi dari keseimbangan supply dan demand Ekonomi Jepang, melebar ke area negatif tertingginya dalam tiga tahun terakhir dalam triwulan ketiga, menyarankan adanya resiko dari deflasi. Angka gap output Jepang minus 0.8 persen di bulan Juli-September, demikian dijelaskan laporan riset pihak pemerintah seperti dilansir Reuters, Selasa, dari minus 0.4 di periode April-Juni.
  • Gap output negatif ini menggambarkan adanya kelebihan penawaran dibanding permintaan di perekonomian, mengindikasikan turunnya teori tekanan inflasi. Data BoJ yang ditunjukan dihari Selasa mengindikasikan bahwa tekanan inflasi sudah mereda terkait perlambatan ekonomi global, dengan indikasi harga untuk jasa bisnis Jepang mencapai kejatuhan terbesarnya dalam lima tahun terakhir di bulan Oktober dari tahun sebelumnya.
  • BoJ terus memantau gap output karena hal ini adalah indikator utama dalam menentukan kebijakan moneter bank sentral untuk mengukur kondisi harga. Gap output menunjukan seberapa jauh GDP telah menyimpang dari “potential GDP” atau menggambarkan volume aktivitas ketika ekonomi berjalan dalam kapasitas penuh. Laporan tersebut mengasumsikan pertumbuhan Potential GDP Jepang di level 1.3 persen untuk triwulan 3, demikian dijelaskan pihak pemerintah.
  • Hanya agenda dari Gubernur BoJ, Masaaki Shirakawa, yang hari ini pukul 15.00 berencana akan pidato di depan Research Wing, University of Tokyo, Tokyo.

Point of View SWISS Hari Ini

Rilis data ekonomi dari Swiss;

  • Koreksi dollar terhadap mata uang utama dunia juga berlangsung pada Swiss franc yang berhasil menguat setelah pemangkasan suku bunga SNB pekan lalu sebesar 100 bps. Analis memperkirakan pemangkasan suku bunga SNB tersebut akan segera diikuti oleh banks sentral negara lain.
  • Bailout senilai 20 juta USD dari pemerintah AS pada perusahaan keuangan terkemuka CitiGroup mengangkat minat pelaku pasar pada aset-aset beresiko, atau setidaknya menahan aksi risk aversion yang marak akhir-akhir ini.
  • Kalendar ekonomi Swiss pekan ini penuh dengan rilis indikator yang signifikan, namun masih berada pada bayang-bayang ancaman pemangkasan bunga lagi oleh SNB.
  • Fokus data fundamental terpenting pekan ini berasal dari rilis agenda KOF Swiss leading indicator, beberapa analis meng-ekspetasikan melemah, turun dari 0.35 menjadi 0.20, menjadi level terendah selama lima-tahun ini.
  • Hari ini tak ada publikasi agenda ekonomi dari Swiss.

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;

  • Aussie dollar berhasil menguat terhadap dollar AS seiring berita bailout senilai 20 juta USD dari pemerintah AS pada perusahaan keuangan terkemuka CitiGroup. Beirta tersebut mengangkat minat pelaku pasar pada aset-aset beresiko, atau setidaknya menahan aksi risk aversion yang marak akhir-akhir ini.
  • Pada perdagangan di AS akhir minggu lalu aussie mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah Barack Obama mengumumkan Timothy Geithner sebagai Menteri Keuangan di kabinetnya. Ditunjukkan orang yang dipercaya oleh pasar ini membuat bursa AS mengalami rally.
  • Data yang rilis hari ini, Rabu (26/11), dari Australia yakni Construction Work Done q/q. Data ini digunakan untuk menakar perubahan total inflation-(adjusted value) dengan tingkat penyelesaian poyek konstruksi.

Sunday, November 23, 2008

Fundamental Outlook AS Pekan Ini


Presiden-terpilih Amerika Serikat Barack Obama Sabtu akhir pekan lalu (15/11) mengumumkan, bahwa dia telah memerintahkan kepada para penasehat ekonominya untuk membentuk rencana pemulihan ekonomi dengan mencetak 2,5 juta kerja baru dalam tempo dua tahun mendatang.

"Kami akan menggarapnya secara terinci dalam pekan-pekan mendatang, namun rencana itu akan diwujudkan dalam dua tahun depan, yakni upaya seluruh negeri bagi loncatan baru untuk mencetak lapangan kerja di Amerika dan meletakkan dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang kuat," kata Obama dalam pidato radio mingguannya.

Dia mengatakan bahwa upaya tersebut akan menghasilkan 2,5 lapangan kerja baru pada Januari 2011 dan meletakkan dasar bagi kebangkitan kembali ekonomi negara.

Dalam forum yang berbeda Obama, juga menjanjikan membawa "perspektif baru" hubungan AS dengan negara-negara lainnya. "Dalam beberapa tahun yang akan datang, pemerintah saya akan membawa perspektif baru dalam peran dan tanggungjawab Amerika di seluruh dunia," katanya. Dia mengemukakan negara-negara harus bekerja bersama untuk memenuhi tantangan global.

Aura postif Obama menulari pasar saham AS, Wall Street. Bursa Wall Street pada penutupan perdagangan akhir pekannya berhasil mengalami rebound tajam seiring dengan pasar yang menyambut berita bahwa Timothy Geithner yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Fed New York bakal menjadi menjabat sebagai Menteri Keuangan di kabinet Obama. Geithner dianggap sebagai sosok yang berpengalaman dan punya kapabilitas untuk membantu AS menangani krisis finansial.

Setelah statement itu, seluruh indeks utama AS tercatat menguat tajam: Dow Jones melonjak 494.13 poin atau 6.54% ke level 8,046.42; S&P 500 meroket 6.32% atau 6.32% ke level 800.03; dan Nasdaq melejit 68.23 poin atau 5.18% ke level 1,384.35.

Pekan ini dari AS beberapa publikasi agenda ekonomi seperti existing home sales, new home sales, house price index Q3 GDP revision, consumer confidence, Oktober Personal income and spending, durable goods akan rilis. Sedangkan dari kawasan Eropa, fokus utama pekan ini ada di Germany Ifo, Selasa; dan HICP flash serta unemployment rilis Jum'at. Eurozone business climates, industrial orders, dan current account jadi fitur data tambahan. (research-iwan)

Harga Emas Makin Kuat, Dolar AS Mungkin Deflasi


Kesenyapan pada gerak emas di pekan sebelumnya telah pecah berganti riuh penguatan. Hampir seluruh komoditas logam di akhir perdagangan pekan lalu terpantau menguat. Emas tercatat menguat 6.6% selama pekan lalu dan berakhir ditutup pada level 791.8.

Akan tetapi penguatan pada emas ternyata masih belum mampu menembus resistan level kami yakni pada 824.50 (lihat chart atas). Menurut kami, emas masih cenderung positif berpotensi menguat pada pekan ini, sepanjang masih bertahan diatas level support kami, yakni pada level 731.40.

Menurut World Gold Council (WGC), pada situsnya, disebutkan bahwa telah terjadi aksi beli besar-besaran pada pasar emas fisik, lebih dari 6.5 milyar dolar AS telah dibelanjakan untuk membeli 232.1 ton koin emas dan emas batangan pada kuartal-ketiga tahun ini. Aksi beli ini tercatat sebagai penguatan +121% basis volume, serta penguatan terbesar selama rekor tiga-bulan sejak tahun 1990.

Menilik spekulasi penguatan yang terjadi pada emas, sampai saat ini kami masih belum melihat kecenderungan investor melakukan posisi short (jual) pada transaksi mereka.

Fenomena ini lebih merefleksikan investor maupun trader masih belum yakin atas penguatan yang terjadi pada dolar AS selamam beberapa pekan terakhir.

Dan jika hal ini benar terjadi, AS akan mengalami risiko deflasi di tahun depan, 2009, dan emas akan segera mengambil alih penguatannya. (research,iwan)

Point of View Kawasan EURO Pekan ini


Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;
  • Euro ditutup menguat, meski negara di kawasan itu sedang dilanda resesi. Menyusul pernyataan Gubernur ECB, Jean Claude Trichet, Bank Sentral tak menutup peluang akan kembali memangkas suku bunga acuannya jika kondisi perekonomian bergerak ke arah yang tak diinginkan.
  • Dengan menafikan kenyataan tentang penguatan pasangan Euro/Dolar AS selama pekan lalu. Pasangan Euro dan Dolar sedikit sekali merespon atas negatifnya beberapa data fundamental ekonomi di kawasan Eropa yang terjadi sepanjang pekan lalu.
  • Tanggal 4 Desember, pada pertemuan bulanan ECB, pembahasan kebijakan tentang pemangkasan bunga kembali digencarkan sebagai reaksi kondisi terkini perekonomian negara di kawasan Eropa. Bank Sentral Eropa (European Central Bank) mungkin akan memotong kembali 50 basis point suku bunga nya.
  • Pekan ini beberapa agenda ekonomi yang diperkirakan akan rilis adalah estimasi Euro Zone CPI untuk bulan berjalan, November. Hampir seluruh indikasi bahwa data CPI inflation masih relatif ebih tinggi, seiring dengan ekspetasi pemangkasan bunga oleh ECB.
  • German Ifo Business Climate, Current Account, Industrial New Orders dan Belgium NBB Business Climate rilis Senin (24/11); GfK German Consumer Climate dan German Final GDP, rilis Selasa (25/11); German Import Prices dan German Prelim CPI rilis Rabu (26/11); German Unemployment Change, M3 Money Supply, Private Loans, dan Consumer Confidence rilis Kamis (27/11); Consumer Price Index (CPI) Flash Estimate, Italian Prelim CPI dan Unemployment Rate menjadi rilis penutup dari kawasan Eropa selama pekan ini.

Point of View STERLING Pekan Ini


Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Peristiwa yang menjadi fokus utama minggu ini adalah publikasi anggaran belanja Inggris untuk tahun 2008 yang akan dipresentasikan oleh Menteri Keuangan Alistair Darling pada hari Senin, yang diprediksikan akan mengumumkan paket stimulus fiskal sebesar 1% dari GDP.
  • Dan juga akan diadakan acara dengar pendapat Gubernur BoE Mervin King, dua deputi Gubernur, dan dua anggota MPC BoE di depan Parlemen Inggris pada hari Selasa mengenai Laporan Inflasi di bulan November. Pernyataan yang diberikan akan memperkuat pandangan pasar akan pemotongan suku bunga selanjutnya di bulan Desember.
  • Pendapatan nasional (GDP) Q3 akan dirilis hari Rabu dan diestimasi tetap kontraksi (menyusut) -0.5% q/q dan 0.3% y/y. dimana akan terlihat penurunan tajam konsumsi dan investasi dunia usaha, serta berkurangnya nilai persediaan dan perdagangan internasional.
  • Hari Jumat, indeks kepercayaan konsumen dan volume perdagangan retailer akan dipublikasikan oleh pemerintah.


.

Point of View YEN Pekan Ini


Data ekonomi yang rilis dari Jepang pekan ini;

  • Bank sentral Jepang bertahan dari pemangkasan bunga di hari Jumat dan terfokus pada operasi pasarnya untuk mencairkan tekanan pembiayaan hingga akhir tahun nanti, terkait penurunan tajam pada pertumbuhan ekonomi Jepang dari efek krisis finansial.
  • Menteri Keuangan Shoichi Nakagawa mengekspresikan kekawatiran tentang kekacauan pasar setelah saham Wall Street menyentuh level terendah dalam satu dekadenya di hari Kamis malam, dan berkata bahwa beliau akan berkerjasama dengan BOJ untuk bertindak semampunya untuk menaikan bursa saham Jepang dan ekonomi mereka.
  • Dengan memperhatikan tekanan pada pasar finansial, bank sentral juga mungkin dapat membeli saham komersial yang lebih fleksibel dibawah perjanjian pembelian untuk membantu perusahaan keuangan dan akan mempertimbangkan perubahan dalam operasi pembiayaannya yang akan dibandingkan dengan jaminan dari hutang corporate.
  • Liburan Labor Thanksgiving Day mengawali rilis fundamental dari Jepang awal pekan ini, dilanjutkan Corporate Services Price Index (CSPI) dan BOJ Monthly Report, rilis Selasa (25/11); Pidato Gubernur BOJ Shirakawa yang rencananya akan berlangsung pada University of Tokyo, Tokyo, rilis Rabu (26/11); Monetary Policy Meeting Minutes, Kamis (27/11); dan Jum'at (28/11), penghujung pekan ini, Manufacturing PMI, Household Spending, Tokyo Core CPI, National Core CPI, Unemployment Rate, Prelim Industrial Production dan Retail Sales serta penutup, Housing Starts.

Point of View SWISS Pekan Ini


Rilis data ekonomi dari Swiss;

  • Swiss National Bank (SNB) memberi kejutan pekan lalu dengan memangkas 100 bps suku bunga. SNB menengarai ekonomi akan mengalami kontraksi, memburuk.
  • Nilai ekspor atas barang ambruk 4.6% untuk bulan September sedangkan perbankan Swiss mulai tertular krisis. Data Consumer Price Index makin melemah, turun dibawah 2 percent mengakibatkan risiko deflasi makin mengancam.
  • Kurs nilai tukar Swiss Franc terhadap Dolar AS (USD/CHF) melemah hingga menembus batas psychological resistance yakni berada pada level 1.200 dan sempat berada diatas level harga 1.2200.
  • Kalendar ekonomi Swiss pekan ini penuh dengan rilis indikator yang signifikan, namun masih berada pada bayang-bayang ancaman pemangkasan bunga lagi oleh SNB.
  • Fokus data fundamental terpenting pekan ini berasal dari rilis agenda KOF Swiss leading indicator, beberapa analis meng-ekspetasikan melemah, turun dari 0.35 menjadi 0.20, menjadi level terendah selama lima-tahun ini.
  • UBS Consumption Indicator akan rilis Selasa (25/11); Employment Level dan pidato Jubir Gubernur SNB Jean-Pierre Roth dari BZ-Preis für Lokaljournalismus, Bern rilis Kamis (27/11); dan penutup pekan ini, Jum'at (28/11) rilis Konjunkturbarometer atau KOF Leading Indicators dari KOF Economic Research Agency.

Point of View AUSSIE Pekan Ini


Yang terjadi di Australia;

  • Reserves Bank of Australia Jum'at lalu (21/11) kembali melakukan intervensi ke pasar mata uang dengan membeli AUD untuk menahan laju pelemahan terhadap USD dan JPY. Ini merupakan kali ke-5 dalam 4 minggu RBA melakukan intervensi, dengan AUD/USD nyaris mencapai level terendah dalam 5 tahun. Hal ini turut mempengaruhi pergerakan mata uang major pagi ini cenderung datar, atau konsolidasi dalam range sempit.
  • Selain itu, sentimen bursa ekuitas Asia tidak begitu buruk, bahkan menjelang tengah hari terjadi rally sehingga indeks saham berada didaerah positif. Keputusan penurunan suku bunga 1% mendadak dari Swiss National Bank sepertinya mempengaruhi spekulasi penurunan suku bunga agresif dari bank-bank sentral major. Membaiknya sentimen pasar menyebabkan high-yielders diburu dan minyak mentah rebound.
  • The Conference Board (CB) Index rilis Selasa (25/11); Laporan Kuartalan Construction Work Done rilis Rabu (26/11); Laporan Kuartalan atas Private Capital Expenditure akan rilis Kamis (27/11); sementara itu, menutup akhir pekan ini dari benua Kangguru, Jum'at (28/11), rilis laporan bulanan Private Sector Credit.

Friday, November 21, 2008

Wall St Runtuh, Bawa S&P500 ke Rekor Terendah 11-tahun

Habis sudah harapan para investor untuk meraih untung di Wall Street setelah indeks kembali terjungkal lebih dari 400 poin, Kamis (20/11).

Yang lebih parah, kepanikan yang terjadi di lantai bursa terbesar di dunia itu telah membuat indeks terkapar di level yang belum pernah terlihat selama lebih dari lima tahun terakhir.

Kepanikan dipicu oleh aksi jual besar-besaran, setelah belum terlihat tanda-tanda akan disetujuinya program talangan (bail out)untuk industri otomotif Amerika.

Selain itu, tekanan kuat yang terjadi di sektor energi ditambah dengan ambruknya harga minyak mentah di bawah level US$ 50 per barel. Belum lagi sektor keuangan yang juga ikut menyumbang kekisruhan di lantai bursa.

Investor benar-benar panik setelah melihat begitu banyak indikator yang akan membenamkan ekonomi AS, tak kuasa untuk menahan lama open buy saham mereka.

Akibatnya, indeks Dow Jones kini terdampar di level 7.000-an, sementara indeks Standard & Poor's 500 sudah menyentuh level terendahnya sejak 1997, rekor terendah selama 11 tahun.

Ini akan menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Presiden terpilih Barack Obama, yang sebelumnya berjanji akan mengupayakan program talangan untuk industri otomotif Amerika disetujui Kongres.

Sebelumnya, “The Big Three”, yang meliputi General Motors, Ford Motors dan Chrysler LLC, telah meminta dana talangan senilai US$ 25 miliar untuk membantu menggerakkan bisnis mereka yang lumpuh akibat lesunya permintaan.

Di menit akhir perdagangan Kamis (20/11), indeks Dow Jones runtuh 444,99 poin menjadi 7.552,29. Indeks Standard & Poor's 500 anjlok 54,14 poin menjadi 752,44. Dan indeks Nasdaq jatuh 70,30 poin menjadi 1.316,12 (research-iwan)

Nikkei Dibuka Merosot, Akibat Anjloknya Wall Street

Indeks bursa Jepang, Nikkei, pada perdagangan pagi ini (21/11) melemah oleh terpukul kerasnya Wall Street di level 11 tahun terndah dan penguatan yen kembali, di mana indeks spot terpeleset 3.0% pada level 7472.18, sementara indeks berjangka untuk periode Desember menurun sekitar 100 poin di level setelah sempat bertengger lebih rendah sebelumnya sekitar level 7320.

Nikkei melemah pada hari Jumat ini karena penurunan yang tajam dalam bursa saham US, penguatan yen dan ketakutan resesi global yang kelihatannya memicu investor institusional membuang asset yang beresiko seperti saham.

Fokus lainnya adalah Orix Corp yang merupakan perusahaan jasa leasing dan keuangan yang mengatakan akan mengeluarkan 150 milyar yen obligasi konversi yang bertujuan untuk membayar hutang jangka pendek dan meningkatkan dana untuk investasi.

Bursa saham US melemah tajam karena investor menghindari resiko akibat ketakutan terhadap penurunan yang dalam atas ekonomi sehingga membuat index S&P ke level terendah sejak 1997.

Peningkatan yen terpantau mendorong turun saham exportir, sementara investor kelihatannya akan menjual saham keuangan untuk cut loss, demikian menurut analis dari Daiwa Securties SMBC.

Pasar memperkirakan Nikkei diperdagangkan diantara 7,200-7,500. Toyota Motor sedang mengurangi output 200,000 kendaraan pertahun pada pabriknya di Thailand karena lemahnya penjualan. NTT Corp merencanakan untuk share split 100 untuk 1 pada tanggal 4 Januari.

Hang Seng Ditutup Melemah; Kepanikan Ancaman Resesi Global

Di akhir perdagangannya (20/11) bursa Hong Kong ditutup menurun. Kekhawatiran mengenai kondisi resesi global semakin membebani pergerakan bursa. Para investor khawatir kondisi yang dialami oleh Hong Kong saat ini akan berlangsung lama.

Hong Kong yang yang saat ini dihantam krisis memperlihatkan ketidakberdayaannya terhada gejolak perekonomian global. Melemahnya dollar Hong Hong terhadap dollar AS memperlihatkan bahwa depresiasi mata uang lokal akan semakin membuat kondisi moneter Hong berada di level yang memprihatinkan.

Indeks Hang Seng ditutup turun sebesar 517,24 poin atau 4,04% menjadi 12.298,56 basis poin. Sedangkan indeks berjangka mengalami penurunan sebesar 447 poin menjadi 12.191 basis poin, dengan pergerkan level tertinggi mencapai 12.257 poin dan terendah 11.832 poin. Total turnover pada hari ini mencapai 44,62 miliar hkd.

Saham-saham yang mengalami pelemahan diantaranya ialah saham ICBC yang turun sebesar 6,6%, saham China Life turun 4,6% dan saham Sun Hung Kai turun 8,2%. Sedangkan indeks sektor properti turun sebesar 554,48 poin atau 3,89% menjadi 13.714,80 basis poin dan indeks sektor finansial melemah 848,88 poin atau 4,23% menjadi 19.214,53 basis poin.

Ancaman Resesi Seret Kospi ke Level Negatif

Bursa Seoul, Korea Selatan di akhir perdagangannya kemarin (20/11) ditutup melemah. Ancaman mengenai resesi yang kemungkinan akan melanda Korea Selatan semakin membuat khawatir para investor.

Seperti kita ketahui, dua negara tetangga Korea yaitu Jepang dan Hong Kong sebelumnya telah resmi mengalami resesi setelah dalam dua kuartal terakhir mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Turunnya saham Citigroup hingga mencapai 235 membuat saham-saham perbankan lokal semakin mengalami ketertekanan. Hal tersebut belum lagi ditambah oleh melemahnya saham-saham eskportir yang dipimpin oleh anjloknya saham Hynix.

Indeks Kopsi ditutup sebesar 68,13 poin atau 6,7% menjadi 948,69 basis poin. Sedangkan indeks berjangka mengalami penurunan sebesar 10,1 poin menjadi 122,95 basis poin, dengan level tertinggi sempat mencapai 128,75 poin dan terendah 122,80 poin.

Saham-saham yang mengalami pelemahan diantaranya ialah saham KB Financial yang turun 14,9%, saham Hana Financial melemah 14,72%, saham Woori Finance turun 10,6%, saham Hynix melemah 15% dan saham Samsung Electronics turun 3,42%.

Emas Menguat, Mengiringi Rumor Pemangkasan Bunga AS

Makin santernya rumor bahwa The Fed akan segera melakukan pemangkasan bunga lagi berdampak penguatan terhadap berbagai komoditas logam sebagai alternative investasi, terutama emas.

Bunga, yield atas Treasury notes jatuh tempo dua-tahun, turun hingga dibawah 1 percent.

Sementara harga emas berjangka untuk kontrak penyerahan bulan Desember di pasar NYMEX naik $12.70, atau menguat 1.7 percent, menjadi $748.70 per ounce.

The Fed bakal akan memangkas kembali suku bunga yang ada saat ini hingga 25 basis poin, menjadi 0.75 percent, demikiain menurut survey yang dilakukan oleh 68 ahli ekonomi pada kantor berita Bloomberg.

“Dengan suku bunga bank yang rendah berpotensi memicu investor untuk meng-koleksi emas sebagai alternative asset,” ungkap Ron Goodis, retail trading director pada Equidex Brokerage Group Inc. Closter, New Jersey.

Namun penguatan yang terjadi pada emas, mungkin tidak akan membawa nasib serupa pada jenis komoditas logam lainnya.

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Jumlah pekerja AS yang mengisi klaim baru untuk subsidi penganguran melonjak minggu lalu ke level tertingginya dalam 16 tahun, sebagaimana dikutip data Departemen Pekerja AS, Kamis, terkait kesulitan kondisi ekonomi yang memaksa perusahaan untuk memangkas sejumlah pekerjanya. Klaim asuransi pengangguran musiman naik ke 542,000 di akhir 15 November dan direvisi 515,000 pada laporan sebelumnya. Ini lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 505,000 klaim baru.
  • Euro tembus level rendah dalam satu minggu dibandingkan dengan yen dan dolar pada perdagangan Kamis (20/11) sesudah pandangan ekonomi yang suram dari Federal Reserve yang menekankan kondisi global yang mengerikan, mencetuskan permintaan baru untuk mata uang yang memiliki hasil lebih rendah.
  • Bundesbank kemarin (20/11) mengumumkan bahwa prediksi perekonomian Jerman pada kuartal keempat akan masih dalam kondisi negatif, atau melanjutkan kondisi resesi yang terjadi pada dua kuartal sebelumnya. Negatifnya pertumbuhan ekonomi membuat perekonomian Jerman dipastikan akan mengalami kurun waktu resesi yang cukup panjang. Penurunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga yang sebesar 0,5%, diperkirakan akan kembali berlanjut pada penurunan sebesar 0,2% pada kuartal keempat menurut pihak Bundesbank.
  • Masih berkutatnya pertumbuhan ekonomi Jerman dilevel negatif membuat pihak pemerintah berencanan akan melakukan beberapa alternatif kebijakan terutama melakukan dorongan kepada sektor perbankan dan sektor riil guna semakin mendorong terciptanya pemulihan ekonomi secara bersamaan. Tertekannya perekonomian Eropa saat ini merupakan dampak dari kebijakan tunggal moneter yang dilakukan ECB sebagai pemilik mandat dalam mengatur kebijakan moneter Eropa.
  • Asosiasi Perbankan Jerman (BdB) memperkirakan bahwa perekonomian Jerman akan mengalami stagnansi pada tahun 2009, bahkan pertumbuhan ekonomi tahun depan diprediksi akan berkisar di level 0,5%. Selain itu, BdB juga memprediksi bahwa rata-rata GDP pada tahun depan akan berkisar antara 1,6% sampai dengan 1,9%.
  • Jika konsesus yang dirilis nanti benar adanya, maka euro lebih berpotensi melemah dan tak ada rilis publikasi agenda ekonomi dari kawasan Eropa hari ini.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Sterling, melemah terbatas atas dolar (20/11). Hal ini karena rilis data penjualan ritel Inggris yang melemah 0.1%. Hal ini masih dibawah ekspektasi para analis yang sebelumnya memperkirakan akan melemah sebesar 0.9% bulan ini.
  • Akan tetapi pelemahan ini tetap menandakan ekonomi Inggris masih tertekan dilihat dari melemahnya penjualan ritel. Melemahnya penjualan ritel ini dikarenakan mulai melemahnya pendapatan masyarakat dan juga resiko yang meningkat sehingga permintaan akan barang ritel juga melemah.
  • Bank Sentral Inggris sendiri sudah melihat akan perlambatan ekonomi di Inggris saat ini. Untuk itu BOE akan memangkas suku bunga sebesar 150 Bps bahkan lebih guna mendongkrak perekonomian Inggris kembali. Bahkan BOE dapat pula menurunkan suku bunga sebesar 200 Bps bila diperlukan. Apalagi saat ini inflasi sudah mulai mereda ditandai dengan anjloknya harga minyak.
  • Hal ini terlihat dari Voting BOE kemarin dengan agenda akan menurunkan suku bunga sebesar 150 Bps. Dalam Voting tersebut berakhir dengan posisi 9-0. Artinya seluruh anggota dewan Gubernur BOE sepakat untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
  • Hari ini tak ada data dari Inggris, tapi besok (22/11) Deputy Gubernur BOE Richard Bean akan berpidato pada konferensi yang diadakan oleh Bank of Turkey, di Istanbul.



.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;

  • Ekspor Jepang merosot cepat dalam tujuh tahun di bulan Oktober akibat krisis finansial global yang menghambat penjualan mobil dan elektronik. Ekspor, mesin utama pertumbuhan ekonomi Jepang dalam enam tahun terakhir, turun 7.7% dari setahun lalu, penurunan terbesar sejak Desember 2001.
  • Yen menguat di saat kondisi sektor kredit global mengalami ketidakpastian oleh berkurangnya carry trade. Pada pernyataannya malam tadi Henry Paluson mengungkapkan ketidaksetujuannya apabila paket bailout senilai 700 miliar dolar yang telah disetujui kongres digunakan untuk menyelamatkan sektor otomotif, yaitu Ford, General Motors, dan Chrysler.
  • Gubernur BoJ Nishimura mengatakan bahwa tensi pada pasar finansial global telah meningkat dan pasar finansial Jepang menjadi tidak stabil. Deputi Gubernur Nishimura mempertimbangkan akan adanya komentar pertama dari bank sentral pada sistem finansial Jepang yang menjadi tidak stabil dan untuk kedepannya Jepang masih akan mendapat berita yang buruk dari perbankan Jepang di waktu yang akan datang.
  • Ada kemungkinan bahwa BOJ akan mengumumkan kebijakan tentang bunga hari ini. Jika sesuai ekspetasi, BOJ dipastikan tidak akan memangkas suku bunga acuan yang ada saat ini.

Point of View SWISS Hari Ini

Rilis data ekonomi dari Swiss;

  • Kamis (20/11), Bank Sentral Swiss (SNB) membuat kejutan dengan memangkas bunga sebesar 100 basis poin pada target kisaran bunga untuk periode 3 bulanan Swiss Franc LIBOR ke level 0.50 – 1.50 persen.
  • Pemangkasan ini merupakan yang ketiga kalinya dalam satu bulan dan saat berita ini dirilis SNB mengatakan bahwa terdapat resiko yang tinggi untuk penurunan di sektor aktivitas ekonomi Swiss tahun depan, sebagaimana dilansir Reuters, kamis.
  • Analis menilai resesi di zona uni-eropa akan mengurangi pertumbuhan ekspor Swiss dan berpotensi melemahkan sektor ketenagakerjaan, yang kemudian akan berujung pada berkurangnya pengeluaran keluarga untuk belanja kebutuhan retail.
  • Tak ada data dari Swiss hari ini

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;

  • Indeks ekonomi utama Australia jatuh di bulan September, menandakan bahwa negara mungkin masuk ke dalam resesi, sehingga mengakhiri ekspansi ekonomi selama 17 tahun berturut-turut. Indeks utama, sebuah ukuran atas pertumbuhan ekonomi mendatang, turun 1% menjadi 258.4 poin.
  • Bill Evans, pimpinan ekonom pada Westpac di Sydney mengungkapkan, ``Pertumbuhan semester pertama tahun 2009 bisa tidak positif, dengan resiko pertumbuhan dua kuartal pertama di 2009 menjadi negatif.'' Pembuat kebijakan diperkirakan memotong bunga setengah poin lagi pada 2 Des menjadi 4.75 %, menurut 13 dari 22 ekonom.
  • Buruknya outlook ekonomi global kembali diperparah dengan anjloknya ekspor negara Jepang ke asia untuk pertama kalinya sejak 2002 lalu. Hal ini membuat investor terus memburu mata uang dolar sebagai langkah risk aversion. Hal ini karena dolar lebih aman dibandingkan mata uang utama lainnya termasuk dengan Aussie. Belum lagi adanya kabar bahwa sektor otomotif di AS dalam ambang kebangkrutan saat ini.
  • Selain itu memburuknya harga minyak juga menambah akselerasi penurunan mata uang aussie. Hal ini karena ekonomi Australia sebagian besar tergantung dari sektor tambang. Sehingga dengan terus turunnya harga minyak maka akan memperburuk outlook ekonomi Australia. Saat ini harga minyak jenis NYMEX anjlok dibawah level US$ 50 per barel.
  • Tak ada data dari Australia hari ini.

Thursday, November 20, 2008

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Komisi Eropa sedang bernegosiasi dengan 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa untuk membentuk paket stimulus senilai 130 M euro (164 Milyar Dolar AS) demi memulihkan ekonomi regional yang sedang terkena resesi, menurut pejabat di pemerintahan Jerman. Anne-Kathrin Roethemeyer, juru bicara Menteri Ekonomi Jerman Michael Glos, mengkonfirmasi publikasi majalah Der-Spiegel yang menuliskan bahwa masing-masing negara di Uni Eropa akan memberikan kontribusi sebanyak 1% GDP-nya untuk membiayai paket stimulus ini.
  • Krisis finansial global kembali terjadi untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia kedua saat pusat keuangan pada industri dunia telah berada di ujung tanduk dalam krisis kali ini, ungkap Presiden ECB Jean Claude Trichet, Rabu. Beliau berkata situasi ini dapat diatasi dengan langkah gabungan dari bank sentral dan pemerintah, dengan faktor kunci pada sektor swasta. Namun, dalam sebuah interview nya dengan Sky News London, beliau menyangkal untuk melanjutkan pada berapa lama krisis ini akan berlangsung.
  • ECB serta bank sentral utama dunia sudah menyuntikkan milyaran dolar ke dalam pasar keuangan untuk memulihkan peminjaman dan pemerintah sudah menolong bank di Eropa. Trichet mengatakan bahwa itu akan ``memerlukan waktu`` dalam memecahkan masalah krisis.
  • Rilis dari Biro Statistik Federal Jerman yang akan merilis indikator utama terutama dari sektor konsumen atau konsumsi akan di publikasikan nanti siang pukul 14.00 WIB. Prakiraan data yang kami dapat masih menunjukkan pesimis, berada pada level -0.6%. Sedangkan sebelumnya, berada pada level 0.3%.
  • Jika konsesus yang dirilis nanti benar adanya, maka euro lebih berpotensi melemah dan tak ada rilis publikasi agenda ekonomi dari kawasan Eropa hari ini.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Federasi Sektor Industri Inggris (CBI) kemarin mengumumkan bahwa output sektor manufaktur Inggris pada bulan November mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dirilis oleh lembaga tersebut diketahui bahwa output sektor manufaktur melemah menjadi -42 poin dari posisi bulan Oktober yang sebesar -31 poin. Penurunan output sektor manufaktur sebenarnya telah diperkirakan oleh banyak pihak seiring masih belum pulihnya perekonomian Inggris.
  • Level penurunan tersebut merupakan level penurunan terbesar sejak bulan September 1980. Selain itu, dengan adanya hasil dari survey yang dilakukan oleh CBI tersebut semakin mengantarkan Inggris pada kondisi resesi. Pada beberapa hari yang lalu bahkan Jerman telah resemi memasuki resesi akibat turunnya pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal terakhir.
  • Dalam upaya memulihkan perekonomian Inggris, sebelumnya pihak BoE telah memastikan akan kembali memangkas tingkat suku bunga. Berdasarkan hasil rapat internal, yang disertai dengan hasil voting dimana mayoritas anggota rapat setuju akan hal tersebut. Dan pada akhirnya BoE sepakat akan memengkas suku bunganya sebesar 150 basis poin.
  • Bank Sentral Inggris (BOE) kemarin (19/11) juga mengumumkan bahwa BOE akan memangkas suku bunga sebesar 150 Bps bahkan lebih guna mendongkrak perekonomian Inggris. Bahkan BOE dapat pula menurunkan suku bunga sebesar 200 Bps bila diperlukan. Apalagi saat ini inflasi sudah mulai mereda ditandai dengan anjloknya harga minyak. Hal ini sesuai dengan voting yang dilakukan BOE dengan agenda akan menurunkan suku bunga sebesar 150 Bps. Dalam Voting tersebut berakhir dengan posisi 9-0. Yang berarti seluruh anggota dewan Gubernur BOE sepakat untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
  • Namun BOE akan menunggu keputusan laporan RAPBN Inggris terlebih dahulu guna mengefektifkan kebijakan monetar yang diambil BOE. Langkah BOE ini mengikuti langkah Bank Sentral Australia yang kemarin juga akan menyatakan dalam waktu dekat juga akan memotong suku bunga acuan.




.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;

  • Nilai tukar yen pada sesi perdagangan kemarin (19/11) terpantau mengalami penguatan terhadap dolar AS. Mata uang Jepang ini mengalami apresiasi dengan berkembangnya spekulasi bahwa para pembuat kebijakan di AS tidak akan mengabulkan permohonan bailout sektor otomotif di negara tersebut. Kondisi ini kembali mengakibatkan aksi carry trade berkurang.
  • Yen menguat di saat kondisi sektor kredit global mengalami ketidakpastian oleh berkurangnya carry trade. Pada pernyataannya malam tadi Henry Paluson mengungkapkan ketidaksetujuannya apabila paket bailout senilai 700 miliar dolar yang telah disetujui kongres digunakan untuk menyelamatkan sektor otomotif, yaitu Ford, General Motors, dan Chrysler.
  • Gubernur BoJ Nishimura mengatakan bahwa tensi pada pasar finansial global telah meningkat dan pasar finansial Jepang menjadi tidak stabil. Deputi Gubernur Nishimura mempertimbangkan akan adanya komentar pertama dari bank sentral pada sistem finansial Jepang yang menjadi tidak stabil dan untuk kedepannya Jepang masih akan mendapat berita yang buruk dari perbankan Jepang di waktu yang akan datang.
  • Trade Balance dari Jepang telah rilis pagi tadi pukul 06.50 WIB, data yang keluar cukup mengecewakan. Semula -0.03 T kemudian di revisi menjadi -0.07 T, sedangkan publikasi aktual berada di bawah ekspetasi, -0.18T. Ekspetasi analis berada pada angka 0.08 T.

Point of View SWISS Hari Ini

Rilis data ekonomi dari Swiss;

  • Retail sales Swiss untuk bulan September mengalami kenaikan sebesar 6.4% dibandingkan data bulan Agustus yang flat.
  • Analis menilai resesi di zona uni-eropa akan mengurangi pertumbuhan ekspor Swiss dan berpotensi melemahkan sektor ketenagakerjaan, yang kemudian akan berujung pada berkurangnya pengeluaran keluarga untuk belanja kebutuhan retail.
  • Kontribusi household expenditure pada GDP diperkirakan mengalami penurunan pada Q3/Q4 dibandingnkan semester pertama 2008, hal tersebut menimbulkan spekulasi pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps pada sidang SNB Desember mendatang.
  • Swiss Trade Balance menjadi ikon kalendar ekonomi dari Swiss hari ini.

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;

  • Indeks ekonomi utama Australia jatuh di bulan September, menandakan bahwa negara mungkin masuk ke dalam resesi, sehingga mengakhiri ekspansi ekonomi selama 17 tahun berturut-turut. Indeks utama, sebuah ukuran atas pertumbuhan ekonomi mendatang, turun 1% menjadi 258.4 poin.
  • Bill Evans, pimpinan ekonom pada Westpac di Sydney mengungkapkan, ``Pertumbuhan semester pertama tahun 2009 bisa tidak positif, dengan resiko pertumbuhan dua kuartal pertama di 2009 menjadi negatif.'' Pembuat kebijakan diperkirakan memotong bunga setengah poin lagi pada 2 Des menjadi 4.75 %, menurut 13 dari 22 ekonom.
  • Reserve Bank of Australia (RBA) Monthly Bulletin menjadi publikasi agenda ekonomi dari Aussie hari ini.

Kongres AS Belum Setuju Bailout untuk “The Big Three”

Perdagangan Rabu (19/11) merupakan kondisi paling kelam dialami Wall Street dalam lima setengah tahun terakhir menyusul makin tak jelasnya situasi perekonomian di Amerika Serikat.

Investor kembali beramai-ramai melakukan aksi lepas saham setelah pembicaraan mengenai rencana bailout industri otomotif kian berlarut-larut dan belum tampak tanda-tanda akan disetujui.

Sebelumnya industri otomotif Amerika, yang diwakili “The Big Three” ialah General Motors Corp, Ford Motor Co dan Chrysler LLC, memohon dana talangan senilai US$ 25 miliar dari pemerintah AS, yang diambilkan dari program bailout sektor keuangan senilai US$ 700 miliar yang dicanangkan Presiden Bush beberapa waktu lalu.

Namun, hingga Rabu, yang merupakan hari kedua pembahasan di Kongres, belum ada indikasi permintaan itu akan disetujui.

Industri otomotif AS saat ini menjadi salah satu sektor yang paling parah mengalami imbas dari pelemahan ekonomi. Tiga Besar Detroit itu sudah berdarah-darah dan perlu injeksi dana untuk dapat menyambung hidup.

Berbagai cara dilakukan ketiganya, seperti penutupan pabrik, PHK dan efisiensi biaya operasional, namun daya serap pasar yang makin tak berdaya membuat mereka kelimpungan dan harus menanggung rugi begitu besar karena lebih banyak mobil menganggur di gudang ketimbang di garasi konsumen.

Sentimen negatif lainnya, Wall Street juga terpengaruh dengan proyeksi Federal Reserve pada tahun depan yang diprediksi melemah.

Penurunan proyeksi ekonomi oleh the Fed itu langsung memicu aksi jual di semua sektor, dengan sektor keuangan yang paling parah terkena imbasnya.

Sentimen itu membuat indeks Dow Jones anjlok 427,47 poin, atau 5,07%, menjadi 7.997,28. Sementara indeks Standard & Poor's 500 ambruk 52,18 poin, atau 6,07%, menjadi 806,94.

Untuk indeks Nasdaq juga melorot 96,85 poin, atau 6,53%, menjadi 1.386,42. Level ketiga indeks Wall Street itu adalah yang terendah sejak 2003. (research-iwan)

Wednesday, November 19, 2008

Kesempatan Lipatgandakan Saham

Saat ini adalah kesempatan bagi pemilik dana pas-pasan untuk bisa melipatgandakadan uang melalui bursa saham. Cara menyiasatinya dengan membentuk investor club atau dana patungan.

Kesempatan untuk memborong saham-saham potensial seperti saham-saham kelompok Bakrie memberi peluang bagi pemodal pas-pasan untuk bisa meraup keuntungan besar. Bayangkan saja, hanya dengan memiliki dana Rp 5.000.000, sudah bisa memiliki beberapa lot saham Grup Bakrie.

Langkah ini menurut saya bisa dilakukan dengan membuka account yang diisi beberapa orang nasabah. Namun yang teregistrasi di perusahaan sekuritas hanya satu orang, biasanya disebut investor club.

Umumnya investor club ini terdiri dari lima orang yang punya dana pas-pasan namun mencoba peruntungan investasi di saham. Untuk bertransaksi efek, anggota investor club bisa melakukan perundingan terlebih dahulu sebelum memutuskan bertransaksi saham.

Investor club ini banyak bermunculan di kalangan mahasiswa. Dengan minimal 25 juta, satu orang bisa patungan 5 juta untuk menjajal lantai bursa.

Pada dasarnya semua bisa berinvestasi di pasar modal. Besar kecilnya investasi sangat tergantung pada nilai investasi awal yang dipatok oleh perusahaan sekuritas.

Ada yang mulai dari 5 juta sampai 100 juta. Cara bertransaksi bisa dilakukan sendiri ataupun lewat equity sales untuk meneruskan order jual ataupun beli.

Untuk tahap awal berinvestasi, investor dapat membeli saham dalam jumlah 1 lot (500 lembar) sesuai peraturan BEJ. Pilihan jenis saham sangat tergantung oleh investor sendiri, namun bila belum paham, investor dapat bertanya ke equity sales perusahaan sekuritas saham-saham yang dapat dipilih dan dibeli.

Maksimal komisi atau fee yang dipungut sekuritas maksimal 1% dari nilai transaksi. Agar lebih menguntungkan, investor dapat memilih sekuritas yang mematok fee lebih kecil karena saat ini terjadi perang fee antar perusahaan efek.

Nasabah bisa cari fee yang murah. Namun jangan asal pilih sekuritas, pilih yang reputasinya bagus, pada dasarnya fee dapat dinegosiasikan kalau investasinya besar umumnya fee bisa dinego

Minyak Kian Gontai di US$ 54

Harga minyak mentah pada perdagangan Selasa (18/11) kian tak berdaya menghadapi kelesuan ekonomi global yang makin parah.

Ketidakpastian mengenai masa depan program talangan senilai US$ 25 miliar untuk industri otomotif AS membuat kecemasan pasar semakin parah, tak hanya di pasar minyak tapi juga di pasar modal.

Tekanan itu membuat harga minyak mentah jenis light sweet ditutup melorot 23 sen menjadi US$ 54,72 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh di US$ 54,13 per barel.

Sementara harga minyak jenis Brent di London merosot 23 sen menjadi US$ 52,08 per barel.

"Harga minyak mentah merosot bersamaan dengan Wall Street. ... Fundamental pasar sangat goyah," kata Andy Lebow, broker di MF Global.

Kejatuhan harga minyak ini membuat OPEC harus segera melakukan pertemuan darurat untuk membahas kemungkinan pemangkasan produksi lagi dari yang disepakati September lalu sekitar 1,5 juta barel per hari.

Point of View AUSSIE Hari Ini

Yang terjadi di Australia;

  • Nilai tukar aussie pada perdagangan kemarin, mengalami penguatan terhadap rival utamanya, dolar AS (18/11). Mata uang Australia ini mengalami kenaikan terhadap dolar AS seiring dengan memburuknya indeks manufaktur di AS. Pada rilis malam sebelumnya data manufaktur AS anjlok ke level terendahnya dalam tujuh tahun belakangan. Kondisi ini memberikan tekanan bagi mata uang dolar AS.
  • Fokus data lokal yang dapat menjadi arahan bagi perdagangan kemarin adalah minute meeting RBA tanggal 4 November lalu di mana RBA memutuskan untuk menurunkan suku bunga di Australia sebesar 75 bps. Minute tersebut akan memberikan sinyal tentang kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan.
  • Penjualan ritel Australia menguat di triwulan ke tiga kurang dari perkiraan ekonom, sehingga memperkuat alasan bank sentral bahwa melambatnya ekonomi akan menjamin adanya rangkaian penurunan suku bunga sejak tahun 1991.
  • Pidato dan statement terntang kebijakan strategis penanganan krisis keuangan menjadi profil agenda ekonomi dari Australia hari ini. RBA Assistant Governor (Economics) Dr. Malcolm Edey, berpidato pada Konferensi the Australia and Japan Economic Outlook 2008, di Sydney dan RBA Governor Glenn Stevens akan berpidato pada CEDA annual dinner, Melbourne.

Point of View YEN Hari Ini

Data ekonomi yang rilis dari Jepang hari ini;
  • Menteri Keuangan Nakagawa memberikan keterangan kemarin (18/11) bahwa prioritas utama pemerintah adalah pemulihan ekonomi. Beliau mengatakan bahwa Jepang akan tetap menetapkan tujuannya dalam menjaga Balance Budget 2011.
  • Data GDP menunjukan bahwa perekonomian dalam masa penurunan dan hal itu akan meningkatkan kesulitan untuk sektor ekspor; mencatat kenaikan kecil pada permintaan domestik yang perlu dijaga kestabilannya. Dan penguatan Dolar AS membutuhkan ekonomi AS yang kuat; Penurunan sistem cadangan dolar akan menyebabkan kepanikan. Status harus tetap dijaga, untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan terakhir, akhirnya Jepang menyatakan bahwa pasar didominasi oleh penguatan dolar saat merespon keadaan fluktuasi perdagangan di pasar uang.
  • Menteri Ekonomi Jepang Kaoru Yosano hari Selasa menyatakan bahwa ekonomi Jepang diperkirakan akan tidak tumbuh dimulai pada awal tahun fiscal bulan April, sebagai pengumuman dari komentar tersuram atas reaksi dari penurunan ekonomi Jepang.
  • Gubernur BoJ Nishimura mengatakan bahwa tensi pada pasar finansial global telah meningkat dan pasar finansial Jepang menjadi tidak stabil. Deputi Gubernur Nishimura mempertimbangkan akan adanya komentar pertama dari bank sentral pada sistem finansial Jepang yang menjadi tidak stabil dan untuk kedepannya Jepang masih akan mendapat berita yang buruk dari perbankan Jepang di waktu yang akan datang.
  • Hanya data All Industries Activity m/m yang rilis hari ini.

Point of View STERLING Hari Ini

Sedang dari Inggris, beberapa data ekonomi yang tersaji;

  • Inflasi CPI Inggris telah memulai penurunan tajamnya, saat turun ke level 4.5 persen pada data tahun ke tahunya di bulan Oktober, dari tingkat yang menggamangkan 5.2 persen untuk tingkat data tahun ke tahun di September, dan dibawah perkiraan tingkat tahunan pasar 4.8 persen.
  • Penurunan minyak menekan biaya transportasi turun dan diskon harga di sektor garmen dan barang rumah tangga juga turun. Jadi bukan hanya inflasi saja yang terimbas oleh turunnya minyak, namun juga diikuti oleh banyak barang lainnya yang menyebabkan CPI inti (yang termasuk makanan, minuman, tembakau dan harga energi) juga turun, ke level 1.9 persen hingga 2.2 persen di bulan September. Kami melihat gejala kelanjutan penurunan pada inflasi, yang dapat membantu BoE untuk kejelasan dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Kami melihat peluang adanya pemangkasan 100 basis poin di bulan Desember. Untuk bunga obligasi periode 2/10 tahun diperkirakan akan turun hingga 220 basis poin.
  • Harga obligasi pemerintah Inggris dan suku bunga berjangka turun di hari Jumat pekan lalu terkait adanya rebound di bursa saham global yang memicu aksi pengambilan profit setelah penutrunan tajam pada rally fixed income’s diminggu ini oleh berkembangnya perkiraan adanya pemangkasan bunga.
  • Saat ini diharapkan bahwa Bank Sentral Inggris (BoE) akan kembali meninjau kebijakan memangkas bunga untuk menghadang arus ekonomi dari ancaman krisis finansial. Selain iru, bank sentral merilis laporan triwulan inflasi pada perkiraan ekonomi yang terburuk sejak bank menjadi independent di tahu 1997 dan perkiraan inflasi yang dapat turun kurang dari setangah target 2 persen.
  • Monetary Policy Committee (MPC) Meeting Minutes bersama BoE dengan agenda utama pembahasan Suku bunga acuan dilaksanakan kemungkinan besar pukul 16.30 WIB nanti, kemudian disusul dengan data Confederation of British Industry (CBI) untuk sektor Industrial Order Expectations akan rilis pukul 18.00 WIB.


.

Point of View Kawasan EURO Hari ini

Dari kawasan Eropa, beberapa data ekonomi yang tersaji;
  • Nilai tukar dolar terhadap euro dan yen mengalami peningkatan pada perdagangan kemarin (18/11). Dolar AS menguat di tengah spekulasi bahwa para investor di seluruh dunia makin gencar memburu dolar yang saat ini dinilai sebagai aset yang paling aman di saat krisis ekonomi global mengancam.

  • Dolar AS mengalami kenaikan ke posisi 1.2611 per euro. Pada penutupan perdagangan di AS malam tadi nilai tukar dolar terhadap euro berada pada posisi 1.2650. Dolar juga mengalami penguatan ke posisi 96.72 yen dari posisi penutupan di level 96.43 yen.
  • Beberapa Analis memprakirakan bahwa pergerakan bullish dolar akan bertahan pada hingga perdagangan hari ini. Untuk hari ini dolar diperkirakan akan mampu mengalami penguatan hingga mencapai level 97.00 yen dan 1.2570 per euro.
  • Pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal ketiga lalu tercatat mengalami koreksi sebesar 0,5%, sedangkan kuartal sebelumnya tercatat turun 1,0%. Turunnya pertumbuhan ekonomi Jerman memberikan dampak yang besar bagi perekonomian Eropa.
  • Hanya Pidato Gubernur ECB Jean-Claude Trichet, dinihari tadi pukul 01.30 WIB, yang disampaikan di Memorial Lecture, London.

Emas Masih Tertekan, Ketidakpastian Menjadi Penyebab

Harga emas kembali tertekan pada hari kedua perdagangannya, krisis finansial global masih menjadi halangan bagi investor untuk mengalihkan portfolio pada komoditas logam, baik emas maupun logam mulia lainnya serta sebagai hedge terhadap inflasi.

“Prospek ekonomi hingga tahun 2009 mendatang masih berpotensi terus melemah, harga komoditaspun cenderung tertekan, termasuk komoditas logam,'' ucap Stephen Platt, commodity analyst pada Archer Financial Services Inc. Chicago kepada Bloomberg.com.

Di ujung perdagangan sesi pasar AS dinihari tadi, emas untuk kontrak penyerahan bulan Desember ditutup melemah $9.30 per troy once, atau turun 1.3 percent, menjadi $732.70 per troy ounce.

Ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang bergerak moderat berakibat turut melemahnya harga komoditas, termasuk diantaranya ialah minyak mentah, jagung dan komoditas lainnya sepanjang tahun ini.

“Seluruh harga komoditas tertekan,'' tambah Platt. “`Namun, menyimpan emas dalam jangka waktu lama bukanlah ide yang konyol, sebab emas masih menjadi investasi alternatif, lebih likuid, dibanding investasi pada asset lainnya”

Performa Hewlett-Packard dorong Wall Street Naik

Setelah melalui pergulatan panjang sejak awal perdagangan di Wall Street, Selasa (18/11), volatilitas yang tinggi, indeks akhirnya berbalik arah di menit akhir perdagangan berkat dukungan indeks Hewlett-Packard (HP).

Padahal sebelumnya indeks di Wall Street sudah menunjukkan kembali tanda-tanda negatif akibat kecemasan rencana PHK massal Citigroup, yang akan diikuti oleh emiten keuangan lainnya.

Seluruh indeks di Wall Street kemarin benar-benar berat karena saham bergerak liar dan beberapa kali bergantian masuk zona merah dan hijau.

Tapi setelah harga emiten HP melonjak hampir 15%, saham-saham di indeks selain S&P langsung terangkat juga. Meskipun sebenarnya tak ada sentimen positif lain selain penguatan saham HP, ungkap analis di Schaeffer's Investment Research.

Saham Citigroup yang ambruk 6% menjadi US$ 8,36, terendah dalam 13 tahun. Ini akibat kecemasan terhadap rencana PHK 52.000 karyawannya, sehingga pasar khawatir bank raksasa ini akan lama untuk pulih kembali.

Indeks Dow Jones berakhir rebound 151,17 poin menjadi 8.424,75. Sementara indeks Standard & Poor's 500 menguat 8,37 poin menjadi 859,12. Dan indeks Nasdaq hanya menguat 1,22 poin menjadi 1.483,27.

Saham HP melompat 14,5% menjadi US$ 33,59 di New York Stock Exchange, sementara saham-saham teknologi lainnya, yang masuk dalam indeks Dow Jones, International Business Machines Corp (IBM) menguat 3,4% menjadi US$ 80,08.

Pada sesi sebelumnya, indeks Dow Jones jatuh di level 8.105,44, sedangkan indeks S&P 500 rontok di 826,84, dan Nasdaq ambruk di 1.429,92. (research-iwan)

Tuesday, November 18, 2008

Memelihara Pertumbuhan PDB

Saat negara-negara adidaya ekonomi dunia menyatakan diri terjangkit resesi, Indonesia untuk sementara kebal terhadap ‘virus’ tersebut. Betapa tidak, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III mencapai 3,5% dibanding kuartal II-2008. Sedangkan bila dibandingkan kuartal saham 2007, menurut pengumuman Badan Pusat Statistik, Senin (17/11), PDB tersebut tumbuh 6,1%.

Jelas ini merupakan prestasi yang patut kita syukuri, di tengah sentimen negatif global dalam beberapa hari terakhir ketika negara-negara kaya dan makmur satu per satu akhirnya harus menerima kenyataan pahit diterjang resesi. Setelah Amerika Serikat, Uni Eropa, Hong Kong, Singapura, dan Selandia Baru, kemarin Jepang resmi masuk dalam pusaran resesi.

Mencermati struktur PDB kita, semua sektor ekonomi tumbuh, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor pertanian sekitar 6,7%. Sektor pertanian melesat karena didukung pertumbuhan mengesankan produk subsektor perkebunan, sebesar 29,3%.

Industri pengolahan juga masih tumbuh 3,2%. Sektor inilah yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal III berdasarkan harga berlaku, senilai Rp 371,8 triliun atau 27,7% dari total PDB. Sektor yang pertumbuhannya juga bagus dan memiliki andil besar terhadap PDB adalah perdagangan, hotel, dan restoran.

Namun, ‘masa kejayaan’ pertumbuhan PDB tersebut tampaknya harus berakhir di ujung kuartal tahun ini. Sebab, semua tahu, berdasarkan prediksi ekonom maupun otoritas yang berkompeten, mulai kuartal IV ini bakal ada perlambatan ekonomi. Kondisi ini akan berlanjut pada tahun depan, yang diperkirakan PDB hanya akan tumbuh sekitar 5%.

Ada beberapa fakta dan tren yang memperkuat asumsi tersebut. Pertama, subsektor perkebunan yang dalam dua kuartal terakhir tumbuh sangat signifikan bakal melempem mulai kuartal IV. Hal itu terjadi seiring anjloknya harga komoditas utama perkebunan kita, seperti minyak sawit mentah (CPO), karet, kopi, dan kakao. Harga komoditas itu terpangkas 40-60% dari level tertingginya tahun ini.

Kedua, industri pengolahan yang memberi andil terbesar dalam PDB mulai dirundung masalah. Tekanan dialami oleh industri padat karya seperti tekstil dan sepatu, serta sejumlah industri unggulan, antara lain elektronik, komponen, dan industri berorientasi ekspor lainnya. Masalah muncul karena konsumen utama produk-produk unggulan tersebut adalah negara-negara maju yang kini mengalami resesi, sehingga mereka mengerem konsumsi.

Industri berorientasi ekspor itu sedang dihadapkan pada pembatalan kontrak dan order dari pembeli luar negeri, revisi kontrak, bahkan ada yang gagal bayar. Itulah yang kemudian memicu pemutusan hubungan kerja di industri-industri manufaktur unggulan. Hingga semester I tahun depan, PHK diduga bakal meluas.

Inilah ironinya, pertumbuhan tinggi tapi dibayangi PHK yang berpotensi meningkatkan angka pengangguran. Hal ini akan memperkuat label yang selama ini melekat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang berkualitas.

Dengan tren ekonomi yang akan melambat dalam atmosfer global yang suram, momentum pertumbuhan ekonomi harus dipelihara, betapapun susahnya.

Untuk itu, pemerintah perlu mempertimbangkan sejumlah usulan pengusaha tentang perlunya stimulus untuk menyelamatkan sektor riil. Di antaranya adalah percepatan pencairan paket stimulus sektor riil senilai Rp 12,5 triliun, penurunan bunga kredit, kemudahan restitusi pajak, serta pemangkasan ekonomi biaya tinggi dan biaya logistik pelabuhan.

Selain itu, untuk mengkompensasi penurunan ekspor, pasar domestik perlu dioptimalkan dengan meningkatkan daya beli rakyat, sehingga konsumsi pun meningkat, yang berpotensi mendongkrak PDB. Pencairan belanja negara harus dipercepat karena juga merupakan komponen penting PDB.

Dalam situasi ketidakpastian saat ini, perlu didorong sinergi pemerintah dan pengusaha. Ide-ide kreatif dan suasana kondusif perlu diciptakan bersama agar penurunan PDB dan gelombang PHK bisa diminimalisasi.

Pasar Otomotif AS Lesu, Dana Talangan Dinanti

Perdagangan di Wall Street Senin (17/11) atau dinihari tadi kembali berakhir muram setelah investor banyak melepas saham-saham berkapitalisasi besarnya, tanda-tanda kemandegan ekonomi semakin nyata.

Ada beberapa indikasi menuju ke arah kemandegan ekonomi global, diantaranya terlihat dari kondisi ekonomi Jepang yang mulai memasuki resesi untuk pertama kalinya sejak 2001. PDB tahunan Negeri Sakura itu terkontraksi 0,4% pada kuartal ketiga 2008, setelah pada kuartal sebelumnya melorot 3,7%.

Pada sesi perdagangan pekan lalu indeks Dow Jones anjlok hampir 340 poin, harga saham di bursa terbesar di dunia tersebut memasuki pekan ini dengan gerakan zig zag, volatilitas tinggi dan berakhir jatuh 223 poin.

Sektor perbankan masih menjadi perhatian pasar setelah muncul kabar bahwa Citigroup Inc. akan kembali memangkas sejumlah karyawannya, 53.000 orang dalam beberapa kuartal mendatang.

Selain itu, pasar juga menunggu keputusan Senat yang membahas kemungkinan menyaluran dana talangan bagi indutsri otomotif yang kelimpungan akibat lesunya permintaan.

Voting akan dilakukan Rabu mendatang (19/11) untuk memutuskan dana talangan, yang diambil dari program penyelamatan ekonomi Bush senilai US$ 700 miliar.

Saat ini Tiga Besar Otomotif Detroit, yakni General Motors Corp., Ford Motor Co. dan Chrysler LLC, sudah kehabisan “nafas”' untuk menggerakkan roda bisnis mereka, setelah semakin banyak mobil produksi mereka hanya memadati ruang pamer tanpa ada yang membeli.

Kecemasan pasar terhadap prospek ekonomi Amerika membuat indeks Dow Jones jatuh 223,73 poin menjadi 8.273,58. Dan sementara indeks Standard & Poor's 500 melorot 22,54 poin menjadi 850,75, serta indeks Nasdaq rontok 34,80 poin menjadi 1.482,05. (research-iwan)

Monday, November 17, 2008

Sekilas Tentang Sistem Bretton Woods

HARI-hari ini kita mengetahui hasil pertemuan puncak Kelompok 20 (G-20), di mana Indonesia ikut berpartisipasi di dalamnya. Pertemuan yang digagas para pemimpin Eropa itu untuk membahas langkah-langkah yang diperlukan demi mengatasi krisis keuangan global.

Mengingat salah satu faktor perusak dari krisis yang terjadi dewasa ini adalah tingkat fluktuasi nilai tukar antar mata uang global, jadi bukan hanya rupiah, banyak pihak yang terpikir kembali untuk menghidupkan Sistem Bretton Woods yang sudah bubar pada 1971 lalu. Untuk mengetahui efektivitas sistem ini dalam mengatasi krisis, perlu dicermati terlebih dulu apa yang dimaksud dengan sistem tersebut dan bagaimana cara bekerjanya?

Sistem Bretton Woods lahir karena kebutuhan adanya sistem moneter yang handal untuk mengatasi dampak berakhirnya Perang Dunia II. Berdasarkan pengalaman Perang Dunia I, sesudah perang adalah masa yang sangat berat bagi perekonomian dunia. Kebangkitan perekonomian negara-negara yang terlibat perang, seperti peningkatan produksi bahan makanan dan industri, akan membuat produksi global meningkat cepat, jauh melebihi kebutuhan.

Keadaan inilah yang melahirkan terjadinya proteksi dan devaluasi yang bergantian terus-menerus (competitive devaluation). Kebijakan suatu negara pada akhirnya hanyalah ingin melindungi negaranya sendiri dan tidak memedulikan dampaknya bagi perekonomian negara lain. Istilah yang tepat untuk menggambarkan itu adalah Beggar they neighbor policy.

Berdasarkan pengalaman tersebut, sebelum Perang Dunia II selesai, sebanyak 44 negara berkumpul di Desa Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat (AS), tepatnya pada 1-22 Juni 1944.

Pertemuan panjang tersebut, yang antara lain dihadiri John Maynard Keynes dari Inggris dan Harry Dexter White dari AS, akhirnya mengambil putusan untuk membangun Sistem Bretton Woods, di mana pendirian Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) menjadi salah satu pilarnya.

Sistem moneter baru tersebut mendasarkan diri pada sistem nilai tukar tetap terhadap dolar AS, sedangkan dolar AS dikaitkan dengan emas, di mana setiap 1 ons emas (sekira 30 gram) ditetapkan harganya kira-kira sebesar USD28.35.

Dengan cara ini, nilai tukar antar mata uang di luar dolar AS juga menjadi tetap.

Konferensi tersebut juga melahirkan Bank Dunia dalam bentuk International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) serta organisasi perdagangan dunia (semula dirancang dalam bentuk International Trade Organization), yang kemudian muncul dalam bentuk General Agreement in Tariffs and Trades (GATT) pada 1947.

Baru pada 1995, World Trade Organization (WTO ) terbentuk. Sistem nilai tukar yang sedemikian mendasarkan diri pada premis bahwa setiap negara harus menjaga keseimbangan neraca pembayarannya. Jika terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran (terutama ekspor-impor), perlu dilakukan langkah perbaikan, baik yang sifatnya sementara (misalnya dengan bantuan IMF) maupun bersifat lebih struktural, yaitu melalui devaluasi atau revaluasi.

Sistem ini pada akhirnya memang membawa stabilitas yang lebih baik dalam perekonomian dunia, meskipun di sana-sini terjadi penyesuaian nilai tukar maupun penyesuaian struktural perekonomian berbagai negara.

Selama dua puluh lima tahun setelah berlakunya sistem tersebut, terjadilah apa yang disebut dengan the golden years, atau masa keemasan perekonomian global, kecuali Inggris yang menderita sakit parah karena berubahnya peran dari semula sebagai jangkar perekonomian dunia, di mana poundsterling sebelumnya dipergunakan sebagai mata uang utama dunia, menjadi "hanya" sekadar anggota dari sistem.

Lebih dari dua puluh tahun, perekonomian Inggris sakit dan harus menjadi pasien IMF berkali-kali. (Inggris juga merupakan pasien IMF pertama kali pada September 1947).

Hancurnya Sistem Bretton Woods

Namun, sistem ini pada akhirnya terpaksa ditinggalkan setelah terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran yang sangat akut dalam perekonomian AS. Terutama karena perang Vietnam yang menyebabkan pengeluaran besar-besaran di AS, perekonomian Amerika harus menanggung defisit neraca pembayaran yang besar.

Lantaran sistemnya mengaitkan dolar AS dengan harga emas, kenaikan harga emas global (di luar sistem moneter) menyebabkan terjadinya proses arbitrase dari dolar AS ke emas. Negara-negara Eropa yang memiliki banyak cadangan devisa, kemudian menukarkan dolar AS-nya dengan emas ke AS, lalu emas tersebut dijual ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Akibatnya, persediaan emas di Fort Knox, AS menjadi turun drastis dan bukan tidak mungkin akan habis sama sekali dalam waktu yang tidak terlalu lama. Melihat kekhawatiran tersebut, AS terpaksa meminta bantuan IMF sebanyak dua kali, yaitu pada 1966 dan 1968. Kendati demikian, proses arbitrase emas tersebut berlangsung dengan deras.

Pada akhirnya, Presiden Nixon memutuskan untuk tidak mengaitkan nilai dolar AS dengan emas, dalam arti AS tidak lagi berkewajiban untuk menukar dolar AS yang dimiliki negara lain dengan emas. Putusan ini dilakukan pada 15 Agustus 1971, yang secara resmi berarti mengakhiri sistem Bretton Woods.

Prospek untuk Hidup Kembali

Setiap orang yang berpikir bahwa sistem Bretton Woods tersebut dapat dihidupkan kembali, tentunya didorong romantisme masa-masa keemasan tersebut.

Sistem yang dipergunakan untuk mengatasi perekonomian global yang bakal saling menjegal, barangkali bisa diterapkan dalam keadaan dewasa ini, di mana ancaman terjadinya proteksi yang bersaing akan tinggi sekali. Kendati demikian, banyak orang tidak melihat bagaimana hancurnya sistem tersebut lantaran tidak sempurnanya perekonomian negara yang menjadi jangkarnya, dalam hal ini AS. Jika sistem semacam itu ingin dicoba lagi, beberapa hal barangkali harus dijawab terlebih dahulu. Siapakah yang akan menjadi jangkar sistem ini?

Amerika Serikat dengan dolar AS jelas tidak lagi mungkin untuk menjadi jangkar. Perbaikan perekonomian negara tersebut membutuhkan waktu lama. Lalu, apakah akan ditunjuk Uni Eropa dengan euronya? Jika ini terjadi, masih akan banyak permasalahan yang timbul, termasuk disrupsi yang akan terjadi dengan perekonomian AS (sebagaimana terjadi dengan Inggris saat penerapan sistem tersebut pada 1945.) Apakah sistem ini tetap cocok di tengah maraknya lembaga keuangan dunia yang sangat spekulatif, seperti hedge funds dan sebagainya?

Jika terjadi potensi ketidakstabilan, hedge funds justru akan memanfaatkan keadaan tersebut dengan bertaruh bahwa suatu mata uang akan mengalami devaluasi. Inilah yang terjadi pada 1991 ketika Soros berspekulasi atas mata uang poundsterling.

Apakah negara atau kelompok perekonomian, terutama yang menjadi jangkar tersebut, akan memiliki disiplin yang diharapkan sehingga pada akhirnya sistem tersebut dapat berjalan langgeng (sustainable)?

Dengan melihat itu semua, perlu pemikiran yang lebih dalam jika kita ingin menempuh jalan tersebut kembali. Namun, "waktu" justru menjadi komoditas yang sangat langka dewasa ini lantaran krisis keuangan global dewasa ini justru memerlukan langkah yang cepat dan efektif.

IHSG Tak Kuat Menahan Gempuran

Pelemahan bursa-bursa utama dunia akibat ancaman resesi global tak bisa dilawan oleh pasar saham Indonesia. Perdagangan saham Bursa Efek Indonesia masih saja lesu, dengan IHSG secara total mencatat penurunan hingga 5,53%.
Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini sangat ragu-ragu, pada kisaran yang tipis. Penurunan tajam terjadi pada perdagangan Kamis, setelah Wall Street mencatat penurunan terbesar. Berikut pergerakan IHSG sepekan:
  • Senin, 10 November: IHSG ditutup naik tipis 2,321 (0,17%) ke level 1.340,681.
  • Selasa, 11 November: IHSG turun 4,124 poin (0,31%) menjadi 1.336,557.
  • Rabu, 12 November: IHSG turun 9,936 poin (0,74%) menjadi 1.326,621.
  • Kamis, 13November: IHSG anjlok 66,908 poin (5,04%) menjadi 1.259,713.
  • Jumat, 14 November: IHSG naik tipis 4,664 poin (0,37%) menjadi 1.264,377.
Diperkirakan, IHSG sepanjang pekan ini bergerak melemah -5.53% ditutup pada level 1.264.38. Sementara pada perdagangan hari Jumat, pergerakan IHSG tertahan oleh terus melemahnya nilai tukar rupiah dan pergerakan saham BUMI yang fluktuatif.

Perdagangan sepanjang pekan lalu juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor global akan dampak resesi yang berkepanjangan. Investor masih mencoba mengira kapan perekonomian global akan kembali pulih. Dampak melemahnya ekonomi global terefleksikan pada pergerakan harga komoditas yang terus melemah.

Harga crude oil terus merosot menembus level $60/barel, bahkan sempat menyentuh level terendah di $55/barel. Berbagai data makro ekonomi dari China dan Eropa juga mengarah pada resesi global.

Sementara pekan ini, fokus investor dalam negeri selain perkembangan bursa regional, juga pergerakan rupiah yang terus terpuruk menuju level tahun 1998. Pekan lalu BI bahkan menerbitkan peraturan pembatasan pembelian valas guna mencegah terus merosotnya nilai tukar rupiah.

Perkembangan saham BUMI dan grup Bakrie lainnya juga masih akan menyita perhatian investor. Secara teknikal, IHSG terlihat tengah bergerak dalam pola sideways dalam jangka pendek. Minimnya sentimen positif menyebabkan sulit bagi IHSG untuk rebound lebih lanjut. Kisaran support-resistance 1.200-1.290.