rss

Monday, November 17, 2008

Sekilas Tentang Sistem Bretton Woods

HARI-hari ini kita mengetahui hasil pertemuan puncak Kelompok 20 (G-20), di mana Indonesia ikut berpartisipasi di dalamnya. Pertemuan yang digagas para pemimpin Eropa itu untuk membahas langkah-langkah yang diperlukan demi mengatasi krisis keuangan global.

Mengingat salah satu faktor perusak dari krisis yang terjadi dewasa ini adalah tingkat fluktuasi nilai tukar antar mata uang global, jadi bukan hanya rupiah, banyak pihak yang terpikir kembali untuk menghidupkan Sistem Bretton Woods yang sudah bubar pada 1971 lalu. Untuk mengetahui efektivitas sistem ini dalam mengatasi krisis, perlu dicermati terlebih dulu apa yang dimaksud dengan sistem tersebut dan bagaimana cara bekerjanya?

Sistem Bretton Woods lahir karena kebutuhan adanya sistem moneter yang handal untuk mengatasi dampak berakhirnya Perang Dunia II. Berdasarkan pengalaman Perang Dunia I, sesudah perang adalah masa yang sangat berat bagi perekonomian dunia. Kebangkitan perekonomian negara-negara yang terlibat perang, seperti peningkatan produksi bahan makanan dan industri, akan membuat produksi global meningkat cepat, jauh melebihi kebutuhan.

Keadaan inilah yang melahirkan terjadinya proteksi dan devaluasi yang bergantian terus-menerus (competitive devaluation). Kebijakan suatu negara pada akhirnya hanyalah ingin melindungi negaranya sendiri dan tidak memedulikan dampaknya bagi perekonomian negara lain. Istilah yang tepat untuk menggambarkan itu adalah Beggar they neighbor policy.

Berdasarkan pengalaman tersebut, sebelum Perang Dunia II selesai, sebanyak 44 negara berkumpul di Desa Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat (AS), tepatnya pada 1-22 Juni 1944.

Pertemuan panjang tersebut, yang antara lain dihadiri John Maynard Keynes dari Inggris dan Harry Dexter White dari AS, akhirnya mengambil putusan untuk membangun Sistem Bretton Woods, di mana pendirian Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) menjadi salah satu pilarnya.

Sistem moneter baru tersebut mendasarkan diri pada sistem nilai tukar tetap terhadap dolar AS, sedangkan dolar AS dikaitkan dengan emas, di mana setiap 1 ons emas (sekira 30 gram) ditetapkan harganya kira-kira sebesar USD28.35.

Dengan cara ini, nilai tukar antar mata uang di luar dolar AS juga menjadi tetap.

Konferensi tersebut juga melahirkan Bank Dunia dalam bentuk International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) serta organisasi perdagangan dunia (semula dirancang dalam bentuk International Trade Organization), yang kemudian muncul dalam bentuk General Agreement in Tariffs and Trades (GATT) pada 1947.

Baru pada 1995, World Trade Organization (WTO ) terbentuk. Sistem nilai tukar yang sedemikian mendasarkan diri pada premis bahwa setiap negara harus menjaga keseimbangan neraca pembayarannya. Jika terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran (terutama ekspor-impor), perlu dilakukan langkah perbaikan, baik yang sifatnya sementara (misalnya dengan bantuan IMF) maupun bersifat lebih struktural, yaitu melalui devaluasi atau revaluasi.

Sistem ini pada akhirnya memang membawa stabilitas yang lebih baik dalam perekonomian dunia, meskipun di sana-sini terjadi penyesuaian nilai tukar maupun penyesuaian struktural perekonomian berbagai negara.

Selama dua puluh lima tahun setelah berlakunya sistem tersebut, terjadilah apa yang disebut dengan the golden years, atau masa keemasan perekonomian global, kecuali Inggris yang menderita sakit parah karena berubahnya peran dari semula sebagai jangkar perekonomian dunia, di mana poundsterling sebelumnya dipergunakan sebagai mata uang utama dunia, menjadi "hanya" sekadar anggota dari sistem.

Lebih dari dua puluh tahun, perekonomian Inggris sakit dan harus menjadi pasien IMF berkali-kali. (Inggris juga merupakan pasien IMF pertama kali pada September 1947).

Hancurnya Sistem Bretton Woods

Namun, sistem ini pada akhirnya terpaksa ditinggalkan setelah terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran yang sangat akut dalam perekonomian AS. Terutama karena perang Vietnam yang menyebabkan pengeluaran besar-besaran di AS, perekonomian Amerika harus menanggung defisit neraca pembayaran yang besar.

Lantaran sistemnya mengaitkan dolar AS dengan harga emas, kenaikan harga emas global (di luar sistem moneter) menyebabkan terjadinya proses arbitrase dari dolar AS ke emas. Negara-negara Eropa yang memiliki banyak cadangan devisa, kemudian menukarkan dolar AS-nya dengan emas ke AS, lalu emas tersebut dijual ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Akibatnya, persediaan emas di Fort Knox, AS menjadi turun drastis dan bukan tidak mungkin akan habis sama sekali dalam waktu yang tidak terlalu lama. Melihat kekhawatiran tersebut, AS terpaksa meminta bantuan IMF sebanyak dua kali, yaitu pada 1966 dan 1968. Kendati demikian, proses arbitrase emas tersebut berlangsung dengan deras.

Pada akhirnya, Presiden Nixon memutuskan untuk tidak mengaitkan nilai dolar AS dengan emas, dalam arti AS tidak lagi berkewajiban untuk menukar dolar AS yang dimiliki negara lain dengan emas. Putusan ini dilakukan pada 15 Agustus 1971, yang secara resmi berarti mengakhiri sistem Bretton Woods.

Prospek untuk Hidup Kembali

Setiap orang yang berpikir bahwa sistem Bretton Woods tersebut dapat dihidupkan kembali, tentunya didorong romantisme masa-masa keemasan tersebut.

Sistem yang dipergunakan untuk mengatasi perekonomian global yang bakal saling menjegal, barangkali bisa diterapkan dalam keadaan dewasa ini, di mana ancaman terjadinya proteksi yang bersaing akan tinggi sekali. Kendati demikian, banyak orang tidak melihat bagaimana hancurnya sistem tersebut lantaran tidak sempurnanya perekonomian negara yang menjadi jangkarnya, dalam hal ini AS. Jika sistem semacam itu ingin dicoba lagi, beberapa hal barangkali harus dijawab terlebih dahulu. Siapakah yang akan menjadi jangkar sistem ini?

Amerika Serikat dengan dolar AS jelas tidak lagi mungkin untuk menjadi jangkar. Perbaikan perekonomian negara tersebut membutuhkan waktu lama. Lalu, apakah akan ditunjuk Uni Eropa dengan euronya? Jika ini terjadi, masih akan banyak permasalahan yang timbul, termasuk disrupsi yang akan terjadi dengan perekonomian AS (sebagaimana terjadi dengan Inggris saat penerapan sistem tersebut pada 1945.) Apakah sistem ini tetap cocok di tengah maraknya lembaga keuangan dunia yang sangat spekulatif, seperti hedge funds dan sebagainya?

Jika terjadi potensi ketidakstabilan, hedge funds justru akan memanfaatkan keadaan tersebut dengan bertaruh bahwa suatu mata uang akan mengalami devaluasi. Inilah yang terjadi pada 1991 ketika Soros berspekulasi atas mata uang poundsterling.

Apakah negara atau kelompok perekonomian, terutama yang menjadi jangkar tersebut, akan memiliki disiplin yang diharapkan sehingga pada akhirnya sistem tersebut dapat berjalan langgeng (sustainable)?

Dengan melihat itu semua, perlu pemikiran yang lebih dalam jika kita ingin menempuh jalan tersebut kembali. Namun, "waktu" justru menjadi komoditas yang sangat langka dewasa ini lantaran krisis keuangan global dewasa ini justru memerlukan langkah yang cepat dan efektif.

IHSG Tak Kuat Menahan Gempuran

Pelemahan bursa-bursa utama dunia akibat ancaman resesi global tak bisa dilawan oleh pasar saham Indonesia. Perdagangan saham Bursa Efek Indonesia masih saja lesu, dengan IHSG secara total mencatat penurunan hingga 5,53%.
Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini sangat ragu-ragu, pada kisaran yang tipis. Penurunan tajam terjadi pada perdagangan Kamis, setelah Wall Street mencatat penurunan terbesar. Berikut pergerakan IHSG sepekan:
  • Senin, 10 November: IHSG ditutup naik tipis 2,321 (0,17%) ke level 1.340,681.
  • Selasa, 11 November: IHSG turun 4,124 poin (0,31%) menjadi 1.336,557.
  • Rabu, 12 November: IHSG turun 9,936 poin (0,74%) menjadi 1.326,621.
  • Kamis, 13November: IHSG anjlok 66,908 poin (5,04%) menjadi 1.259,713.
  • Jumat, 14 November: IHSG naik tipis 4,664 poin (0,37%) menjadi 1.264,377.
Diperkirakan, IHSG sepanjang pekan ini bergerak melemah -5.53% ditutup pada level 1.264.38. Sementara pada perdagangan hari Jumat, pergerakan IHSG tertahan oleh terus melemahnya nilai tukar rupiah dan pergerakan saham BUMI yang fluktuatif.

Perdagangan sepanjang pekan lalu juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor global akan dampak resesi yang berkepanjangan. Investor masih mencoba mengira kapan perekonomian global akan kembali pulih. Dampak melemahnya ekonomi global terefleksikan pada pergerakan harga komoditas yang terus melemah.

Harga crude oil terus merosot menembus level $60/barel, bahkan sempat menyentuh level terendah di $55/barel. Berbagai data makro ekonomi dari China dan Eropa juga mengarah pada resesi global.

Sementara pekan ini, fokus investor dalam negeri selain perkembangan bursa regional, juga pergerakan rupiah yang terus terpuruk menuju level tahun 1998. Pekan lalu BI bahkan menerbitkan peraturan pembatasan pembelian valas guna mencegah terus merosotnya nilai tukar rupiah.

Perkembangan saham BUMI dan grup Bakrie lainnya juga masih akan menyita perhatian investor. Secara teknikal, IHSG terlihat tengah bergerak dalam pola sideways dalam jangka pendek. Minimnya sentimen positif menyebabkan sulit bagi IHSG untuk rebound lebih lanjut. Kisaran support-resistance 1.200-1.290.

Bidik Saham Konsumsi & Bank UKM

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (12/11) diperkirakan masih akan melanjutkan penguatan meski dalam kisaran terbatas. Saham yang direkomendasikan adalah BBRI, BDMN, UNVR, dan INDF.

Beberapa Analis mengatakan, terbatasnya penguatan indeks saham dipicu beberapa faktor fundamental, seperti pertumbuhan ekonomi yang direvisi turun, suku bunga tinggi dan nilai tukar rupiah yang berada dalam tren melemah. “Investor saat ini sebaiknya berhati-hati dalam berinvestasi.”

Pasalnya, sekarang ini sedang terjadi arus perpindahan investasi. Investor beralih dari ekuitas ke surat utang negara seperti obligasi atau memilih pegang cash, dalam hal ini dolar AS.

Selain itu, investasi jangka pendek di saham menjadi tidak menarik terkait penerapan suku bunga tinggi, apalagi harga komoditas terus merosot. Adapun jatuhnya harga komoditas selain karena berkurangnya permintaan, juga dinilai karena aksi hijrah investor ke pasar valas.

Fenomena seperti ini akan terus terjadi hingga kuartal pertama 2009, yaitu perpindahan dari saham ke surat utang negara atau dolar AS dan penurunan harga komoditas.”

Ketatnya likuiditas perbankan juga membuat investor yang mau masuk ke pasar saham sulit mendapatkan pembiayaan. Bank dalam negeri tidak mau memberi kredit dalam dolar AS, sehingga pinjaman dalam dolar terbatas.

Alhasil, sedikit dana baru yang masuk ke saham. Kondisi tersebut menyebabkan kondisi pasar sangat volatile. Saat ini yang menjadi parameter perbankan adalah kualitas kreditnya. Hal ini karena pendapatan bunga bank menipis dan kredit macet (NPL) cenderung meningkat terimbas suku bunga tinggi.

Bank yang masih menarik dalam kondisi saat ini adalah yang melakukan pendanaan dalam mata uang rupiah, dan yang melempar kredit ke sektor berimbal hasil tinggi, seperti UMKM dan micro financing.

BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia) dan BDMN (PT Bank Danamon) masuk dalam kategori itu, direkomendasikan bagi investor.

Sedangkan bank yang dihindari adalah yang mengucurkan kredit cukup besar pada korporasi. Pasalnya dalam situasi suku bunga tinggi seperti sekarang, potensi kredit bermasalah (NPL) sangat tinggi. Adapun bank yang disarankan dihindari adalah PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Internasional Indonesia (BNII). Sedangkan saham yang menurut Norico juga menarik untuk dikoleksi adalah saham berbasis konsumsi. Karena, meski terimbas pelambatan ekonomi global, saham sektor ini masih tetap mengalami pertumbuhan. Hanya sedikit terkoreksi, tapi tidak negatif.

Saya rekomendasikan saham UNVR (PT Unilever) dan INDF (PT Indofood)

Pelemahan IHSG juga dipicu sentimen negatif bursa Wall Street yang akhir pekan lalu ditutup melemah, setelah mengalami volatilitas selama perdagangan. Indeks Dow Jones turun 337,94 poin (3,82%) ke level 8.497,31, indeks S&P 500 melemah 38 poin (4,17%) ke level 873,29 dan indeks Nasdaq jatuh 79,85 poin (5%) ke level 1.516,85.

Terperosoknya bursa global dipicu penjualan ritel pada Oktober yang anjlok 2,8% menjadi hanya sebesar US$ 363,7 miliar, terburuk sejak 1992. Serta sentimen negatif dari kinerja kuartal emiten yang mengecewakan.

Pada perdagangan saham Jumat (14/11) IHSG berhasil naik tipis 4,664 poin (0,37%) menjadi 1.264,377. Transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tercatat 54.258 kali, dengan volume 3,469 miliar unit saham, senilai Rp 3,704 triliun. Sebanyak 70 saham naik, 59 saham turun dan 57 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Gudang Garam (GGRM) naik 650 poin ke harga Rp 4.950 per saham, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik 450 poin ke harga Rp 6.300, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 300 poin ke harga Rp 8.650, dan PT United Tractors (UNTR) naik 150 poin ke harga Rp 3.875.

Demikian pula saham PT Telkom (TLKM) naik 100 poin ke harga Rp 5.800, PT Bank Central Asia (BBCA) naik 50 poin ke harga Rp 2.775, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik 40 poin ke harga Rp 1.750.

Sementara saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Astra Internasional (ASII) turun Rp 300 menjadi Rp 9.100, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 3.275 dan PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 20 menjadi Rp 1.160.

Saham Tunggu Rupiah dan Respon Hasil G20

Pekan ini Bursa Efek Indonesia, masih dibayangi bursa saham regional serta pergerakan rupiah yang mengkhawatirkan.

Respon investor terhadap hasil KTT G20, yang sepakat untuk mereformasi sistem keuangan global, menjadi faktor pergerakan bursa.

Fokus investor dalam negeri selain perkembangan bursa regional, juga pergerakan rupiah yang terus terpuruk menuju level tahun 1998.

Selain itu perkembangan saham BUMI dan grup Bakrie lainnya juga masih akan menyita perhatian investor. Secara teknikal, IHSG terlihat tengah bergerak dalam pola sideways dalam jangka pendek.

Minimnya sentimen positif menyebabkan sulit bagi IHSG untuk rebound lebih lanjut. Diperkirakan kisaran support-resistance pekan ini akan berada pada 1.200-1.290.

Pekan lalu, secara keseluruhan Indeks Harga Saham Gabungan melemah 5,53 persen pada 1.264.38. Sedangkan indeks Kompas 100 turun 5,94 persen menjadi 304,368. Serta indeks LQ45 melorot 6,48 persen ke 245,381.

Melorotnya, indeks pekan lalu, dipengaruhi oleh kekhawatiran investor global akan dampak resesi yang berkepanjangan. Dampak melemahnya ekonomi global terefleksikan pada pergerakan harga komoditas yang terus melemah.

Harga minyak mentah terus merosot menembus level 60 dollar AS per barrel. Berbagai data makro ekonomi dari China dan Eropa juga mengarah pada resesi global.

Sementara pasar saham Wall Street Amerika Serikat, pada pekan lalu, juga mengalami kemorosotan. Indeks Dow Jones Industrial Average, dalam sepekan melorot 4,99 persen pada 8.497,31. Kemudian indeks komposit Nasdaq anjlok 7,92 persen menjadi 1.516,85 serta indeks Standard & Poor’s 500 melorot 6,17 persen pada 873,29.