Wall Street pada perdagangan Selasa (25/11), dinihari tadi WIB, masih menunjukkan kinerja yang cukup, meski tidak semua indeks menguat, cenderung beragam atau mixed.Kondisi itu terkait dengan meningkatnya optimisme pasar, diperkirakan bahwa paket penyelamatan yang diluncurkan the Federal Reserve dapat membangkitkan kembali kepercayaan pasar perumahan dan juga memberi kesempatan lagi kepada konsumen untuk mendapatkan kredit.
Namun, tidak demikian dengan indeks Nasdaq yang berakhir melemah. Pelemahan itu disebabkan ambruknya saham-saham teknologi seiring dengan makin turunnya permintaan.
Kabar terburuk dari sektor teknologi adalah ketika Cisco Systems (CSCO.O) mengumumkan bahwa mereka akan menutup sebagian besar operasionalnya di AS dan Kanada selama lima hari. Langkah itu diambil sebagai upaya memangkas biaya.
Selain itu, pasar kemarin juga tidak terlalu bersemangat karena pemerintah mengumumkan bahwa PDB AS untuk kuartal ketiga tahun ini turun 0,5%, meski sesuai ekspetasi, tapi Itu menunjukkan bahwa AS sudah semakin dekat dengan resesi.
Akibatnya, indeks Dow Jones hanya naik 36,47 poin menjadi 8.479,86. Untuk indeks Standard & Poor's 500 menguat 5,59 poin menjadi 857,40. Namun, indeks Nasdaq rontok 7,29 poin menjadi 1.464,73
Sementara itu dari dalam negeri, setelah mencicipi zona positif pada perdagangan Selasa (25/11), Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan Rabu ini (26/11).
Apalagi Wall Street semalam berakhir mixed dengan indeks Dow Jones hanya naik 36 poin, sementara indeks Nasdaq rontok akibat jatuhnya saham-saham teknologi.
Namun, tekanan paling parah yang kemungkinan akan menahan laju pergerakan indeks di BEI adalah jatuhnya harga minyak yang kembali ke kisaran US$ 50 per barel, dari sebelumnya di US$ 54 per barel.
Jika dalam dua hari perdagangan terakhir sektor tambang menjadi penyumbang kenaikan terbesar, ada kemungkinan hari ini akan terjadi yang sebaliknya. Jika itu terjadi, maka dapat diprediksikan IHSG akan tertahan.
Saham kelompok Bakrie, yang banyak berkecimpung di bisnis energi, kemarin menjadi saham-saham yang mengerakkan bursa. Tapi jika harga minyak jatuh seperti saat ini, ada kemungkinan kelompok usaha ini juga akan menggerus kenaikan yang terjadi kemarin.
Jadi, ada potensi cukup besar para investor akan melakukan aksi ambil untung hari ini dengan kondisi eksternal yang kurang menguntungkan. (sumber:pojokberita.web.id)
0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda, Dengan Senang Hati Kami Akan SEGERA Menjawabnya. Tapi mohon bersabar yaa jika Kami terlambat menjawab..